Proses general review terhadap Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) resmi bergulir. Langkah awal evaluasi menyeluruh ini ditandai dengan penyerahan dokumen laporan tahap pertama (Stage One Report) oleh masing-masing perwakilan negara di Canberra, Australia.
Dokumen nasional tersebut berfungsi sebagai pijakan utama untuk mengukur efektivitas implementasi IA-CEPA selama lima tahun terakhir. Selain menilai capaian yang telah diraih, tinjauan ini ditujukan untuk memetakan sektor-sektor potensial baru demi mempererat kemitraan strategis kedua negara.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Johni Martha, menyerahkan langsung laporan Indonesia kepada Kepala Negosiator Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Ravi Kewalram.
Dalam kesempatan tersebut, Johni mendorong penerapan konsep powerhouse untuk menggarap potensi ekonomi bilateral. Indonesia berharap implementasi IA-CEPA di masa mendatang tidak hanya berfokus pada perdagangan barang, tetapi juga merambah ke sektor investasi, jasa, hingga penguatan konektivitas rantai pasok global.
Isu ketimpangan neraca perdagangan yang masih dialami Indonesia turut menjadi sorotan utama dalam evaluasi ini. Merespons hal itu, pihak Australia menilai hubungan dagang kedua negara perlu dipahami secara lebih luas, terutama dari sudut pandang keterkaitan rantai pasok dan dampak ekonomi yang saling menguntungkan.
Guna memodernisasi kerja sama, Indonesia juga memasukkan sejumlah isu krusial terbaru ke dalam laporan evaluasi tersebut, seperti akselerasi ekonomi digital, pengolahan mineral kritis, keberlanjutan lingkungan, dan penguatan ketahanan pangan.
Pascapertukaran laporan awal ini, kedua pihak akan segera merumuskan Joint Report guna menyelaraskan temuan serta menentukan arah baru kesepakatan IA-CEPA.


















