Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) secara resmi menyetujui penetapan Türkiye sebagai Mitra Dialog (Dialogue Partner) ke-12. Pengumuman penting ini disampaikan oleh Sekretaris Departemen Luar Negeri Filipina sekaligus Ketua AMM, Ma. Theresa Lazaro, usai Sesi Pleno Pertemuan Para Menteri Luar Negeri ASEAN ke-59 di Philippine International Convention Center (PICC).
Kabar ini disambut hangat oleh pejabat Türkiye, salah satunya Talip Küçükcan yang menyebut momentum ini sebagai babak baru yang krusial bagi hubungan diplomatik Türkiye dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
Perluasan Kemitraan Strategis: Jerman dan Qatar
Selain Türkiye, ASEAN juga memperluas jangkauan kerja sama internasionalnya dengan memberikan status Mitra Dialog Sektoral (Sectoral Dialogue Partner) kepada dua negara lain:
Jerman: Diberikan status ini sebagai bentuk pengakuan atas dukungannya yang berkelanjutan terhadap ASEAN serta kesiapannya untuk berkontribusi lebih lanjut dalam pembangunan Komunitas ASEAN.
Qatar: Diberikan status yang sama berkat peningkatan kerja sama di bidang diplomasi, pembangunan, bantuan kemanusiaan, pendidikan, dan konektivitas, serta aksesi Qatar ke dalam Treaty of Amity and Cooperation (TAC).
"Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan yang terus berlanjut dari para mitra kami terhadap ASEAN. Kami memandang ini sebagai langkah positif dalam mewujudkan aspirasi yang tertuang dalam Visi Komunitas ASEAN 2045," ujar Lazaro dalam konferensi persnya.
Penguatan Kerjasama Regional dan Isu Timur Tengah
Pertemuan AMM ke-59 ini juga menandai persiapan peringatan 50 tahun TAC pada 24 Juli, di mana empat negara Eropa—Polandia, Rumania, Swedia, dan Lituania—dijadwalkan akan secara resmi menyetujui dan bergabung dalam perjanjian persahabatan tersebut.
Di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, para menteri luar negeri ASEAN sepakat mengeluarkan Pernyataan Menteri Luar Negeri ASEAN tentang Situasi di Timur Tengah. Langkah yang diprakarsai oleh Filipina selaku Ketua ASEAN ini bertujuan untuk mempertegas posisi kolektif ASEAN dalam menjaga perdamaian dan stabilitas global.
Selain itu, ASEAN meluncurkan dokumen pedoman baru (Guidelines on the Modalities for Engagement) yang menjadi kerangka kerja praktis untuk memperkuat hubungan politik, ekonomi, dan sosial-budaya antara ASEAN dengan para pihak penandatangan TAC.
Indonesia Tekankan ASEAN Harus Hasilkan Manfaat Nyata
Dalam sesi pleno Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) ke-59 di Manila, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan bahwa kredibilitas ASEAN tidak cukup diukur dari banyaknya komitmen yang disepakati, melainkan dari kemampuan organisasi tersebut menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjaga stabilitas kawasan.
"ASEAN telah membuktikan bahwa organisasi ini mampu berkembang. Sekarang pertanyaan yang lebih menantang: apakah ASEAN mampu memenuhi janji-janjinya?" ujar Sugiono.
Indonesia mendorong percepatan penyelesaian Code of Conduct (CoC) di Laut Cina Selatan pada tahun ini secara efektif, substantif, dan sesuai hukum internasional, khususnya Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982. Menurut Sugiono, kawasan yang diatur berdasarkan hukum akan lebih kuat dibanding kawasan yang bergantung pada kekuatan.
Selain itu, Indonesia mengusulkan pembentukan ASEAN Heads of Consular Affairs Division Forum guna memperkuat koordinasi perlindungan warga negara ASEAN di luar negeri, terutama dalam situasi konflik dan keadaan darurat.
Di tengah meningkatnya rivalitas global, Sugiono juga mendorong agar kemitraan ASEAN dengan negara-negara mitra diarahkan pada kerja sama yang lebih konkret, termasuk di bidang respons krisis, ketahanan pangan dan energi, serta penguatan rantai pasok.
Sugiono turut menyambut keputusan ASEAN yang secara resmi menerima Türkiye sebagai Mitra Dialog ke-12. Menurutnya, status baru tersebut diharapkan dapat menghasilkan kerja sama yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Komunitas ASEAN.
Menjelang peringatan 60 tahun ASEAN pada 2027, Indonesia juga mendorong penguatan mandat dan sumber daya organisasi agar sejalan dengan target Visi Komunitas ASEAN 2045.
"Dokumennya sudah lengkap. Pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan seberapa jauh ASEAN telah melangkah, tetapi apakah masyarakat kita benar-benar dapat merasakan manfaatnya," tutup Sugiono.






















