BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Indonesia resmi mulai pembangunan proyek LNG Abadi Masela senilai $21 miliar
Proyek tersebut dirancang memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, sekitar 35 ribu barel kondensat per hari, serta 150 juta kaki kubik standar gas per hari untuk memenuhi kebutuhan industri domestik.
Indonesia resmi mulai pembangunan proyek LNG Abadi Masela senilai $21 miliar
Proyek itu diperkirakan menghasilkan penerimaan langsung bagi negara sekitar $37,8 miliar. / BPMI Setpres RI

Indonesia resmi memulai pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, yang telah tertunda hampir tiga dekade. Proyek senilai sekitar $21 miliar itu diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional, mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia timur, serta membuka ribuan lapangan kerja.

Peresmian pembangunan dilakukan pada Kamis (16/7) dan dihadiri secara virtual oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan proyek tersebut tidak boleh lagi mengalami penundaan serta seluruh proses pembangunan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Ekonomi, pembangunan, transformasi, hilirisasi, industrialisasi harus secepatnya membawa kemakmuran untuk sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia. Ekonomi harus untuk rakyat, bukan rakyat untuk ekonomi,” ungkap Prabowo.

Presiden juga menegaskan Indonesia tetap terbuka terhadap investasi dan kerja sama internasional selama memberikan manfaat bersama dan sejalan dengan kepentingan nasional.

Prabowo menyampaikan apresiasi kepada Inpex Corporation dari Jepang, Petronas dari Malaysia, dan Pertamina atas keterlibatan mereka dalam pengembangan proyek tersebut. Menurutnya, pemerintah berkomitmen menciptakan iklim investasi yang sehat sehingga seluruh mitra memperoleh manfaat.

Ketahanan energi nasional

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan sekitar 60 persen produksi gas dari Lapangan Abadi Masela akan dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri, sedangkan sisanya diekspor.

Ia menjelaskan proyek tersebut dirancang memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, sekitar 35 ribu barel kondensat per hari, serta 150 juta kaki kubik standar gas per hari untuk memenuhi kebutuhan industri domestik.

Menurut Bahlil, proyek itu diperkirakan menghasilkan penerimaan langsung bagi negara sekitar $37,8 miliar, ditambah potensi penerimaan pajak tidak langsung sebesar $6,43 miliar.

Ia menambahkan pembangunan proyek diperkirakan menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja selama fase konstruksi dan menyediakan sekitar 800 hingga 1.000 pekerjaan saat memasuki tahap operasi. Pemerintah juga mengalokasikan investasi sekitar $1 miliar untuk penerapan teknologi carbon capture and storage (CCS) untuk menekan emisi dari proyek tersebut.

Blok Masela yang berada di Laut Arafura, sekitar 750 kilometer di selatan Ambon dan dekat perbatasan maritim Australia, memiliki cadangan gas sekitar 18,54 triliun kaki kubik (Tcf). Seluruh wilayah konsesinya berada di perairan Indonesia.

Proyek ini dioperasikan oleh Inpex Masela Ltd dengan kepemilikan 65 persen, sementara 35 persen sisanya dimiliki Pertamina dan Petronas setelah keduanya mengambil alih saham Shell pada 2023.

Kontrak bagi hasil Blok Masela pertama kali diberikan pada 1998 untuk jangka waktu 30 tahun, kemudian diperpanjang 20 tahun setelah pengembangannya berulang kali mengalami penundaan.

TerkaitTRT Indonesia - Pertamina perkuat pasokan LPG nasional, kapal PG1 bawa 45,9 ribu ton gas dari AS


SUMBER:TRT Indonesia