Ribuan pengungsi Rohingya di Bangladesh dilaporkan semakin terdesak oleh kondisi kehidupan yang memburuk, termasuk keterbatasan pangan dan menurunnya bantuan internasional. Situasi ini membuat sebagian dari mereka nekat menempuh jalur laut berisiko tinggi untuk meninggalkan kamp penampungan.
Dalam laporan Reuters, seorang pengungsi bernama Rahila Begum menjadi salah satu korban selamat dari insiden kapal yang membawa hampir 300 orang dan kemudian tenggelam di Laut Andaman. Tragedi tersebut menyebabkan sekitar 250 orang hilang dan diduga tewas.
Begum mengatakan ia mengapung selama dua hari sebelum akhirnya diselamatkan oleh kapal tanker yang melintas. Ia menjadi satu dari sedikit orang yang selamat dalam perjalanan menuju Malaysia.
“Tidak pernah saya bayangkan bisa selamat,” ujarnya seperti dikutip Reuters, menggambarkan kondisi kelaparan dan keputusasaan yang melatarbelakangi keputusan banyak pengungsi untuk pergi melalui jalur laut.
Menurut laporan tersebut, ratusan pengungsi Rohingya meninggal setiap tahun akibat kelaparan, cuaca buruk, maupun kecelakaan di laut. Namun jumlah orang yang mencoba melarikan diri tetap meningkat seiring memburuknya kondisi di kamp-kamp pengungsian.
Kamp pengungsi di wilayah Cox’s Bazar, Bangladesh, saat ini menampung sekitar 1,2 juta warga Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar sejak 2017. Banyak dari mereka tidak memiliki akses kerja dan hanya bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Namun, pemotongan bantuan pangan oleh lembaga internasional disebut memperparah situasi. Program Pangan Dunia PBB (WFP) kini memberikan bantuan bulanan antara 7 hingga 12 dolar AS per orang, tergantung tingkat kerentanan keluarga. Dana tersebut dinilai tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
“Pemotongan jatah membuat kami hanya bisa membeli beras dan minyak,” kata salah satu pengungsi dalam laporan tersebut, yang menggambarkan keterbatasan makanan seperti daging atau ikan.
Badan pengungsi PBB (UNHCR) mencatat hampir 900 orang Rohingya dilaporkan hilang atau meninggal di laut sepanjang 2025, menjadikannya salah satu tahun paling mematikan dalam perjalanan migrasi di kawasan. Lebih dari 2.800 orang dilaporkan telah mencoba menyeberang hanya dalam beberapa bulan pertama tahun ini.
Pihak PBB menyebut situasi ini sebagai krisis kemanusiaan yang terus memburuk, dengan generasi muda Rohingya semakin kehilangan harapan untuk masa depan di kamp-kamp pengungsian.








