BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Indonesia dorong hilirisasi logam tanah jarang untuk industri teknologi
Pemerintah juga menyiapkan pembangunan fasilitas riset dan produksi REE yang dijadwalkan dimulai pada 20 Mei 2026. Proyek ini direncanakan sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis dunia.
Indonesia dorong hilirisasi logam tanah jarang untuk industri teknologi
Logam tanah jarang menjadi komponen kunci dalam berbagai sektor modern, termasuk elektronik, energi terbarukan, dan kendaraan listrik. / AP
3 jam yang lalu

Indonesia mempercepat pengembangan hilirisasi mineral strategis melalui pengolahan logam tanah jarang (rare earth elements/REE), seiring meningkatnya kebutuhan global untuk industri berteknologi tinggi.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat perannya dalam riset dan pengolahan REE guna mengurangi ketergantungan impor, meskipun Indonesia memiliki cadangan yang melimpah di sejumlah wilayah seperti Bangka Belitung, Mamuju, dan Kalimantan.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Heru Agung Saputra, menjelaskan bahwa mineral pembawa REE seperti monasit dan xenotim selama ini masih banyak diekspor dalam bentuk mentah dengan nilai ekonomi yang relatif rendah.

“Jika pengolahan dapat dilakukan di dalam negeri, nilai ekonominya akan jauh lebih tinggi dibandingkan hanya mengekspor bahan mentah,” ujarnya.

TerkaitTRT Indonesia - Pemerintah identifikasi 8 blok tambang kaya logam tanah jarang

Strategi jangka panjang

Melalui riset yang terus berjalan, para peneliti BRIN telah berhasil memisahkan sejumlah unsur REE dari mineral tersebut. Unsur-unsur ini memiliki peran penting dalam berbagai aplikasi strategis, mulai dari katalis industri, magnet permanen, hingga komponen elektronik seperti ponsel, kamera, dan layar LCD. Selain itu, REE juga menjadi bagian penting dalam pengembangan baterai dan teknologi pertahanan.

Di sisi lain, pemerintah juga tengah menyiapkan pembangunan fasilitas riset dan produksi REE yang dijadwalkan dimulai pada 20 Mei 2026. Proyek ini direncanakan akan diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis dunia.

Secara global, logam tanah jarang menjadi komponen kunci dalam berbagai sektor modern, termasuk elektronik, energi terbarukan, dan kendaraan listrik. Dengan memperkuat industri ini, Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah sekaligus meningkatkan daya saing dalam industri teknologi berbasis mineral kritis.

Langkah ini menegaskan strategi jangka panjang pemerintah untuk mendorong transformasi ekonomi menuju industri bernilai tambah tinggi, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok teknologi global.

TerkaitTRT Indonesia - Pemerintah identifikasi 8 blok tambang kaya logam tanah jarang


SUMBER:TRT Indonesia