Pemerintah Indonesia menargetkan penghematan devisa hingga Rp500 triliun (sekitar US$28,09 miliar) setiap tahunnya melalui pengembangan industri bioetanol di dalam negeri. Langkah ini dinilai krusial untuk menekan ketergantungan impor bahan bakar sekaligus menjaga perputaran modal di dalam negeri.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan, nilai ekonomi sebesar Rp500 triliun tersebut selama ini mengalir ke luar negeri untuk membiayai impor energi. Dengan memproduksi biofuel secara mandiri, dana tersebut dapat dialirkan langsung untuk kesejahteraan petani lokal.
"Intinya adalah etanol, nilai energi, dan biofuel saat ini diproduksi oleh negara lain dengan nilai mencapai Rp500 triliun," ujar Amran usai memimpin rapat koordinasi percepatan pengembangan bioetanol bersama 44 bupati di Jakarta, Senin (21/9), sebagaimana dilansir Antara.
Guna merealisasikan target ambisius ini, pemerintah telah menyiapkan lahan seluas 1 juta hingga 2 juta hektare sebagai pusat produksi bahan baku. Fokus pengembangan akan bertumpu pada tiga komoditas pertanian strategis, yakni tebu, singkong, dan jagung.
Dalam koordinasi tersebut, sebanyak 44 kepala daerah turut menyatakan komitmennya untuk memetakan potensi wilayah serta menentukan jenis tanaman yang paling sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing. Pemerintah memastikan penyediaan lahan prioritas ini memiliki status hukum yang jelas, termasuk kawasan yang telah dilepaskan untuk kepentingan pertanian.
Sementara itu, untuk pembangunan fasilitas pengolahan industri, pemerintah menerapkan skema pendanaan gabungan (joint funding) antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor swasta. Komposisi pembiayaan direncanakan 30 persen dari BUMN dan 70 persen dari pihak swasta.
"Komposisi pendanaan bisa 30 persen dari BUMN dan 70 persen dari swasta. Swasta pasti berminat karena negara yang menyiapkan lahannya," imbuh Amran.
Amran menambahkan, program hilirisasi bioetanol ini merupakan bagian dari pilar besar kedaulatan nasional, menyusul pencapaian sebelumnya di sektor swasembada pangan dan protein.
"Tujuan utamanya adalah mencapai kedaulatan di bidang energi, pangan, dan protein. Insyaallah, Indonesia akan menjadi bangsa besar di masa depan. Kita sudah mengatasi pangan dan protein, sekarang kita mengejar etanol," pungkasnya.























