Kebakaran besar melanda Kampung Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (22/8) malam. Sebanyak 129 rumah adat Suku Sasak terbakar dan 320 warga terdampak.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut dan menegaskan keselamatan serta pemenuhan kebutuhan dasar warga menjadi prioritas pemerintah.
“Kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam kepada seluruh masyarakat Kampung Adat Sade yang terdampak. Paling penting saat ini adalah memastikan warga dalam kondisi aman dan kebutuhan dasar masyarakat dapat segera terpenuhi,” kata Widiyanti dalam siaran pers, Minggu (23/8).
Kementerian Pariwisata telah menyiagakan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok untuk membantu warga, termasuk membuka dapur umum dan menyiapkan bantuan sesuai kebutuhan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah.
Data sementara menunjukkan 129 rumah adat hangus terbakar dan 320 warga telah dievakuasi. Penanganan melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, serta petugas pemadam kebakaran. Pemerintah juga menyiapkan tempat penampungan sementara dan memenuhi kebutuhan pangan, pakaian, keamanan, serta pendidikan anak-anak terdampak.
Pemerintah siapkan rekonstruksi
Kebakaran dengan cepat meluas karena rumah-rumah tradisional di kawasan tersebut menggunakan atap ilalang dan material bambu yang mudah terbakar. Warga menyebut api kemungkinan bermula dari dapur atau korsleting listrik, sementara penyebab pastinya masih ditangani pihak berwenang.
Sejumlah warga kini mengungsi di rumah keluarga dan kehilangan barang berharga, termasuk kain tenun dan pakaian adat.
Widiyanti menegaskan Sade bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ruang hidup dan pusat pelestarian budaya Sasak.
“Sade bukan sekadar destinasi wisata. Sade adalah rumah masyarakat, ruang hidup budaya Sasak, sekaligus bagian penting dari kekayaan pariwisata Indonesia. Karena itu, duka masyarakat Sade juga menjadi duka kita bersama,” tegasnya.
Kementerian Pariwisata akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan kementerian terkait untuk rekonstruksi setelah masa tanggap darurat, dengan tetap mempertahankan keaslian arsitektur tradisional Suku Sasak.
“Prioritas kita sekarang adalah masyarakat. Setelah kondisi darurat tertangani, kita akan bersama-sama memikirkan pemulihannya. Kita ingin Sade bangkit kembali tanpa kehilangan jati dirinya,” pungkas Widiyanti.













