Opini
KONFLIK ISRAEL-IRAN
6 menit membaca
Trump biarkan pintu diplomasi Iran tetap terbuka, Netanyahu gagal menutupnya
PM Israel Benjamin Netanyahu tiba di AS dengan harapan mendapat keselarasan kuat terhadap Teheran. Namun, ia justru menghadapi Gedung Putih yang ingin menguji jalur diplomasi, memperlihatkan perbedaan strategis yang dapat membentuk fase negosiasi.
Trump biarkan pintu diplomasi Iran tetap terbuka, Netanyahu gagal menutupnya
Seorang demonstran mengangkat plakat saat Presiden AS Trump bertemu dengan PM Israel Netanyahu di Gedung Putih di Washington. / Reuters

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali dari Washington tanpa hasil yang jelas seperti yang ia harapkan, maupun seperti yang telah ia bangun di hadapan publik domestiknya menjelang kunjungan tersebut.

Kunjungan yang dipercepat seminggu dan digambarkan Netanyahu sebagai agenda mendesak itu berakhir dengan pernyataan singkat tanpa banyak makna dari kantornya. Tidak ada pernyataan bersama, tidak ada konferensi pers, dan tidak ada deklarasi keselarasan publik dengan Presiden Donald Trump terkait Iran.

Dalam pertemuan di Gedung Putih pada Rabu, isu Iran menjadi agenda utama Netanyahu. Dalam perjalanan pulang, ia mengatakan telah menyampaikan pandangannya secara tegas—bahwa ia “tidak menyembunyikan skeptisisme umum terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran”.

Bagi pemimpin yang biasanya menonjolkan capaian diplomatik dan kedekatan dengan presiden AS—mulai dari pidatonya pada 2015 di Kongres yang menentang kesepakatan Iran era Obama hingga kemitraannya dengan Trump dalam Abraham Accords—sikap yang lebih menahan diri ini dinilai mencolok.

Presiden Trump sendiri mengatakan bahwa “belum ada keputusan definitif” yang diambil.

Gedung Putih menegaskan bahwa negosiasi dengan Iran masih berlangsung setelah putaran awal pembicaraan AS–Iran yang bersifat eksploratif untuk menguji kemungkinan kerangka kesepakatan baru.

Pernyataan itu justru menjadi kabar yang ingin dihindari Netanyahu.

Pertemuan yang ditentukan oleh hal-hal yang tidak terjadi

Netanyahu datang ke Washington dengan menyatakan akan mempresentasikan “prinsip panduan” Israel untuk negosiasi dengan Iran.

Namun, tidak ada hal baru yang mendasar dalam prinsip tersebut maupun dalam pesan yang ia sampaikan.

Selama lebih dari tiga dekade, Netanyahu secara konsisten menggambarkan Iran sebagai ancaman eksistensial bagi Israel, termasuk dalam forum internasional seperti PBB pada 2012 ketika ia menggambar “garis merah” pada ilustrasi bom kartun.

Tujuan utamanya tetap sama: melemahkan Iran, mengutamakan perubahan rezim jika memungkinkan, dan memastikan Iran tidak memiliki kemampuan nuklir maupun rudal jarak jauh.

Setelah serangan langsung Israel ke Iran tahun lalu, isu kemampuan rudal menjadi semakin sentral dalam tuntutan Israel.

Di Washington, Netanyahu mendorong posisi maksimalis:

  • Tidak ada pengayaan uranium di wilayah Iran, yang merupakan tuntutan melampaui kerangka kesepakatan sebelumnya seperti JCPOA 2015, yang masih mengizinkan pengayaan terbatas di bawah pengawasan ketat.

  • Pembatasan ketat, bahkan penghapusan, program rudal balistik Iran.

  • Pembatasan terhadap sekutu dan jaringan proksi Iran.

  • Kebebasan Israel untuk melakukan serangan terhadap Iran, bahkan di bawah kesepakatan apa pun di masa depan.

Ia juga menolak klausul “sunset” yang mengarah pada pembatasan permanen, yang menurutnya akan mengunci dominasi strategis Israel di kawasan tersebut.

Namun, seluruh pendekatan itu tidak sejalan dengan arah diplomasi AS–Iran.

Meski pemerintahan Trump belum merinci parameter pasti dari kesepakatan yang mungkin tercapai, sinyal awal dari Washington menunjukkan tujuan yang lebih terbatas dibanding tuntutan Israel.

Fokusnya tampak pada memperpanjang waktu “breakout” nuklir Iran dan mencegah senjata nuklir, alih-alih menghapus seluruh aktivitas pengayaan uranium atau membongkar program rudal balistik Iran.

Dengan kata lain, Gedung Putih tampaknya sedang menguji apakah kesepakatan yang tidak sempurna tetapi dapat ditegakkan masih mungkin dicapai sebelum beralih ke opsi eskalasi.

Pendekatan ini mencerminkan perhitungan bahwa membatasi kemajuan nuklir Iran, meski hanya sebagian, mungkin lebih dipilih dibanding risiko konfrontasi atau aksi militer.

Pada saat yang sama, Presiden Trump memperkeras retorikanya.

Ia kembali menegaskan komitmennya terhadap negosiasi, tetapi disertai peringatan keras: jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir dengan Washington, hasilnya akan, dalam istilahnya, “sangat traumatis”.

Untuk pertama kalinya, Trump juga memberikan batas waktu pada ultimatum tersebut, dengan menyebut bahwa diplomasi hanya memiliki jendela terbatas—sekitar satu bulan ke depan—sebelum konsekuensi akan menyusul.

Pesan dari Washington bersifat ambigu secara sengaja: diplomasi tetap menjadi jalur utama, tetapi waktu kini secara terbuka mulai berjalan.

Waktu kunjungan Netanyahu juga dinilai krusial. Ia mempercepat lawatan tersebut tak lama setelah putaran pertama pembicaraan AS–Iran, menandakan adanya urgensi sekaligus kekhawatiran.

Pejabat Israel khawatir negosiasi akan bergerak maju sebelum Israel dapat memengaruhi parameternya.

Kekhawatiran itu tampaknya beralasan. Meski Trump terus melontarkan ancaman verbal terhadap Iran, tindakannya menunjukkan preferensi untuk menguji diplomasi sebelum mengambil langkah militer.

TerkaitTRT Indonesia - Kemarahan selektif Israel atas protes Iran mengungkapkan kerusakan moral

Tekanan domestik dan kalkulasi politik

Urgensi Netanyahu juga didorong oleh faktor dalam negeri.

Koalisi pemerintahannya menghadapi tekanan yang meningkat, termasuk perselisihan soal pengecualian wajib militer bagi partai ultra-Ortodoks, keterbatasan anggaran akibat biaya perang yang berkepanjangan, serta ketidakpuasan publik pasca serangan 7 Oktober dan eskalasi regional setelahnya.

Konfrontasi besar dengan Iran—atau bahkan sekadar persepsi bahwa ia memimpinnya—akan membawa dampak politik besar.

Iran tetap menjadi salah satu isu yang relatif menyatukan koalisi dan oposisi di Israel.

Netanyahu menyadari hal itu. Ia telah lama memposisikan diri sebagai pelindung utama terhadap Teheran, dan perlu menunjukkan kepada pemilih bahwa Washington tetap berada dalam garis yang sejalan dengannya.

Itulah sebabnya ia terus menekankan narasi “koordinasi” dengan AS kepada publik domestik, meski bukti terbukanya tidak terlalu kuat.

Berdasarkan penilaian intelijen Israel, Netanyahu membawa data ke Washington untuk meragukan niat Iran, termasuk klaim bahwa Teheran mengulur waktu negosiasi, melanjutkan eksekusi, dan tidak serius membahas isu rudal.

Namun jika informasi tersebut dimaksudkan untuk menggagalkan diplomasi, upaya itu tampaknya tidak berhasil.

Tim Trump—termasuk Steve Witkoff, Jared Kushner, Marco Rubio, dan lainnya—mendengarkan.

Namun Gedung Putih tidak menerima kesimpulan Israel bahwa negosiasi tidak akan berhasil.

Sebaliknya, Washington tampak bertekad menguji apakah kesepakatan masih mungkin, meski tidak sempurna. Ini membuat Israel bersiap menghadapi skenario alternatif.

Penilaian umum di Israel adalah bahwa pembicaraan pada akhirnya bisa gagal—baik karena tuntutan Iran tidak sejalan dengan garis merah AS, maupun karena tuntutan Israel sendiri membuat kesepakatan mustahil secara politik atau teknis.

Itulah sebabnya Netanyahu tetap bersikeras mempertahankan opsi militer tetap terbuka.

Di balik layar, pertemuan tiga jam itu kemungkinan tidak hanya membahas posisi negosiasi, tetapi juga skenario darurat: apa yang terjadi jika pembicaraan runtuh, sejauh mana Israel dapat bertindak sendiri, dan tingkat dukungan atau toleransi apa yang bisa diharapkan dari AS.

Tuntutan inti Israel tetap sama: kebebasan bertindak.

Meski tampak kompak di depan publik, Netanyahu dan Trump sebenarnya mendekati isu Iran dari dasar strategi yang berbeda.

Trump lebih mengutamakan fleksibilitas dan leverage, menggunakan ancaman kekuatan untuk mendapatkan konsesi sambil tetap menjaga jalur diplomasi.

Sementara Netanyahu menginginkan kepastian jangka panjang berupa pembatasan struktural agar Iran tidak kembali menjadi kekuatan nuklir ambang dalam konfigurasi politik apa pun di masa depan.

Yang menyatukan keduanya—setidaknya untuk saat ini—adalah kepentingan politik. Keduanya ingin menghindari konfrontasi terbuka, keduanya menghadapi kalkulasi domestik, dan keduanya memahami risiko eskalasi.

Namun bagi Netanyahu, kunjungan ke Washington menegaskan satu realitas yang tidak nyaman: Israel bisa memengaruhi kebijakan AS, tetapi tidak mengendalikannya.

Diplomasi terus berjalan—suka atau tidak suka Israel.

SUMBER:TRT World