Debit air di sepanjang aliran Sungai Ciliwung kawasan Bogor, Jawa Barat, mengalami penurunan drastis akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran publik atas dampak fenomena El Nino yang kian mengintai wilayah Indonesia.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Senin (27/7), dasar sungai di sejumlah titik tampak mengering hingga menyisakan pendangkalan hebat. Area dangkal tersebut bahkan dimanfaatkan warga setempat untuk mencuci pakaian, sementara anak-anak terlihat bermain di tengah alur sungai yang kian surut.
Fenomena menyusutnya Sungai Ciliwung ini menjadi indikator awal bahwa sejumlah wilayah di Indonesia mulai memasuki fase penurunan aliran sungai dan peningkatan risiko kekeringan.
Puncak Kemarau Diprediksi Lebih Kering
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan bahwa musim kemarau pada tahun 2026 akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibanding kondisi normal. BMKG memperkirakan puncak musim kemarau ekstrem ini terjadi pada rentang bulan Juli hingga September.
BMKG juga memprediksi hampir separuh dari zona musim (ZOM) di wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan di bawah rata-rata atau kategori bawah normal.
Dampak dari penurunan curah hujan ini berpotensi memicu krisis ketersediaan air bersih, mengancam produktivitas sektor pertanian, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah.
Pemerintah daerah dan masyarakat di sekitar daerah aliran sungai (DAS) diimbau untuk mulai melakukan langkah mitigasi serta menghemat penggunaan air guna meminimalisasi dampak kekeringan yang lebih luas.



















