Presiden China Xi Jinping telah menjamu rekan sejawatnya dari AS, Donald Trump, untuk sebuah KTT China–AS yang bernilai tinggi di tengah perang di Iran.
Dengan konflik yang sedang berlangsung serta isu teknologi, perdagangan, dan tarif yang menjadi agenda penting, Trump tiba di Balai Agung Rakyat sekitar pukul 10 pagi waktu setempat.
Trump sebelumnya mengatakan bahwa selama pertemuan ia akan mengangkat isu penjualan senjata ke Taiwan.
Beijing menyatakan kedua pemimpin akan membahas "isu-isu besar yang menyangkut hubungan China–AS, perdamaian dunia, dan pembangunan".
Presiden AS juga menyatakan bahwa ia akan mengajukan "permintaan pertamanya" kepada Xi untuk "membuka" China bagi bisnis Amerika.
Trump didampingi Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan sejumlah CEO, termasuk Jensen Huang dari Nvidia dan Elon Musk dari Tesla.
Eksekutif lainnya termasuk Tim Cook dari Apple, Larry Fink dari BlackRock, dan Kelly Ortberg dari Boeing.
Pembicaraan di bawah tekanan
Kunjungan ini merupakan yang pertama oleh seorang presiden AS ke China sejak 2017, ketika Trump melakukan kunjungan ke Beijing pada masa jabatan pertamanya.
Presiden Joe Biden tidak mengunjungi China selama masa kepresidenannya.
KTT ini berlangsung di tengah konflik di Timur Tengah yang dipicu setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu pembalasan terhadap Israel dan sekutu AS di Teluk, serta penutupan Selat Hormuz.
Gangguan tersebut telah memengaruhi perdagangan internasional, terutama aliran minyak global, sehingga menambah urgensi dalam pembicaraan antara Washington dan Beijing.
Selat ini biasanya mengangkut sekitar 20 persen minyak dunia yang diangkut lewat laut dan bagian besar gas alam cair (LNG). Hampir lumpuhnya selat ini sejak awal Maret 2026 telah memicu guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, mendorong harga Brent crude ke puncak di atas $120 per barel dan menjaga biaya energi tetap tinggi.
Harga bahan bakar yang lebih tinggi telah meningkatkan biaya pengiriman, produksi, dan transportasi di seluruh dunia, memperlambat pertumbuhan perdagangan barang global menjadi sekitar 1,9 persen pada 2026 (turun dari 4,6 persen pada 2025), dengan risiko penurunan lebih lanjut jika konflik berkepanjangan.












