ASIA
2 menit membaca
AMM ke-59 dibuka, ASEAN serukan diplomasi di tengah krisis Timur Tengah
ASEAN menyoroti dampak konflik terhadap perdagangan, energi, ketahanan pangan, dan rantai pasok, termasuk distribusi pupuk. Organisasi tersebut menilai koordinasi lintas sektor perlu diperkuat agar kawasan tetap tangguh menghadapi gejolak global.
AMM ke-59 dibuka, ASEAN serukan diplomasi di tengah krisis Timur Tengah
Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) ke-59 resmi dibuka di Manila, Filipina, pada Selasa (21/7). / Reuters

Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) ke-59 resmi dibuka di Manila, Filipina, pada Selasa (21/7), di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, konflik yang terus berlangsung, serta tantangan terhadap stabilitas kawasan.

Mengusung tema "Navigating Our Future, Together", Menteri Luar Negeri Filipina Theresa P. Lazaro menegaskan bahwa ASEAN harus tetap bersatu menghadapi tantangan global. Menurutnya, Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama (TAC) yang memasuki usia ke-50 tetap menjadi fondasi stabilitas kawasan melalui prinsip penghormatan terhadap kedaulatan, nonintervensi, dan penyelesaian sengketa secara damai.

Dalam kesempatan yang sama, para menteri mengeluarkan pernyataan bersama Menteri Luar Negeri ASEAN yang menyoroti memburuknya situasi di Timur Tengah, termasuk kembali meningkatnya permusuhan antara Amerika Serikat dan Iran.

ASEAN menyatakan keprihatinan bahwa eskalasi tersebut dapat menggagalkan berbagai upaya mediasi dan memperkecil peluang penyelesaian melalui dialog. Organisasi itu menyerukan seluruh pihak agar menahan diri, menghindari tindakan yang memperburuk keadaan, serta segera menghentikan permusuhan di seluruh kawasan Timur Tengah.

Stabilitas kawasan

ASEAN juga menegaskan pentingnya menjaga keselamatan pelayaran dan kebebasan navigasi sesuai Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (UNCLOS). Para menteri menyampaikan keprihatinan terhadap setiap langkah sepihak yang dapat menghambat lalu lintas di Selat Hormuz maupun jalur pelayaran internasional lainnya, serta meminta agar hak lintas transit kapal dan pesawat tetap terjamin sesuai hukum internasional.

Selain itu, ASEAN menyoroti dampak konflik terhadap perdagangan, energi, ketahanan pangan, dan rantai pasok, termasuk distribusi pupuk. Organisasi tersebut menilai koordinasi lintas sektor perlu diperkuat agar kawasan tetap tangguh menghadapi gejolak global.

Pernyataan itu juga menegaskan kembali kewajiban setiap negara untuk menyelesaikan sengketa secara damai, menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah, melindungi warga sipil, serta menjamin keselamatan personel kemanusiaan sesuai hukum internasional.

ASEAN turut menegaskan komitmennya memberikan bantuan darurat kepada warga negara ASEAN yang terdampak krisis dan memperkuat koordinasi melalui berbagai mekanisme regional, termasuk ASEAN Plus One, ASEAN Plus Three (APT), East Asia Summit (EAS), dan ASEAN Regional Forum (ARF).

Selama pertemuan yang berlangsung hingga 24 Juli, para menteri juga akan membahas implementasi Visi Komunitas ASEAN 2045, perkembangan situasi di Myanmar, negosiasi kode etik Laut China Selatan, serta dampak konflik global terhadap keamanan, energi, dan perdagangan kawasan.

TerkaitTRT Indonesia - Dorong kerja sama ekonomi biru, Banyuwangi jadi tuan rumah Forum ASEAN-ID Blue 2026

SUMBER:TRT Indonesia