Penyedia indeks global MSCI memutuskan memperpanjang masa peninjauan terhadap pasar saham Indonesia hingga Juni, memberi waktu tambahan untuk mengevaluasi sejumlah reformasi yang baru diumumkan otoritas keuangan nasional.
Langkah ini mengikuti peringatan MSCI pada Januari lalu terkait potensi penurunan status Indonesia dari “emerging market” menjadi “frontier market” akibat persoalan transparansi.
Kekhawatiran tersebut sempat memicu tekanan besar di pasar, dengan indeks saham Jakarta turun sekitar 12% sepanjang tahun ini—terburuk di antara pasar utama Asia—serta arus keluar dana asing mencapai sekitar US$2,3 miliar secara neto.
Dalam pernyataan terbarunya, MSCI menyebut tengah mengkaji sumber data baru dan kebijakan regulasi yang diperkenalkan Indonesia.
Namun untuk sementara, lembaga tersebut masih membekukan penyesuaian faktor inklusi asing dan tidak akan menambah saham Indonesia ke dalam indeks investable maupun menaikkan klasifikasi kapitalisasi.
“Ini menegaskan pendekatan MSCI yang berhati-hati, sambil menunggu implementasi reformasi,” kata Mohit Mirpuri dari SGMC Capital. “Pasar masih dalam posisi menunggu, dengan Juni sebagai momen kunci berikutnya.”
Di dalam negeri, Bursa Efek Indonesia menyatakan terus menjalin komunikasi dengan MSCI.
Pelaksana tugas CEO BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan pihaknya juga akan meningkatkan dialog dengan investor global untuk memperkuat pasar modal ke depan.
Sejak peringatan awal tahun, Indonesia telah meluncurkan sejumlah reformasi, termasuk peningkatan transparansi data pemegang saham dan kenaikan batas minimal saham beredar (free float) menjadi 15% guna memperdalam likuiditas serta menekan potensi manipulasi harga.
Meski demikian, MSCI menegaskan belum akan memasukkan perubahan tersebut ke dalam perhitungan indeks hingga proses evaluasi rampung dan masukan dari pelaku pasar diperoleh.
“Pendekatan ini bertujuan membatasi risiko terhadap investabilitas sekaligus memberi waktu untuk penilaian lebih lanjut,” tulis MSCI.
Sementara itu, indeks saham Jakarta tercatat masih melemah tipis pada awal perdagangan terbaru, mencerminkan sikap hati-hati investor menanti hasil tinjauan yang dijadwalkan pada Juni.












