BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Indonesia simpan potensi energi terbarukan 3.687 GW, pemerintah dorong percepatan transisi bersih
Kementerian ESDM mencatat potensi energi terbarukan Indonesia mencapai 3.687 GW, namun kapasitas terpasang baru 16,32 GW sehingga diperlukan langkah percepatan untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Indonesia simpan potensi energi terbarukan 3.687 GW, pemerintah dorong percepatan transisi bersih
Potensi energi terbarukan Indonesia 3.687 GW, namun baru terpasang 16,32 GW. Foto Kementerian ESDM

Kekayaan sumber daya alam Indonesia memiliki peranan krusial dalam mendukung transisi menuju energi bersih. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa total potensi energi baru terbarukan (EBT) yang dimiliki Nusantara mencapai 3.687 gigawatt (GW), yang utamanya didominasi oleh energi surya, air, dan angin.

Inspektur Jenderal Kementerian ESDM, Yudhiawan, menyampaikan bahwa besarnya potensi tersebut berbanding jauh dengan realisasi pemanfaatannya saat ini. Hingga Juni 2026, kapasitas pembangkit EBT yang terpasang di Indonesia baru menyentuh angka 16.321 megawatt (MW) atau sekitar 16,32 GW.

"Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, mencapai 3.687 GW, yang didominasi oleh energi surya, hidro, dan angin," ujar Yudhiawan saat memberikan pengarahan kepada Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (29/7).

Kesenjangan yang cukup lebar antara potensi dan kapasitas terpasang mendorong pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan. Sebagai langkah nyata, pemerintah tengah menyiapkan rencana pembangunan pembangkit listrik dengan total kapasitas 69,5 GW, di mana 43,6 GW di antaranya bakal bersumber dari energi terbarukan.

Proyek ambisius ini akan ditopang oleh pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer serta gardu induk dengan total kapasitas 107.950 megavolt-ampere (MVA). Penguatan jaringan ini difokuskan untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik hingga ke kawasan transmigrasi serta wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Guna menjangkau wilayah pelosok dan kepulauan, pemerintah menerapkan strategi ganda. Desa-desa yang dekat dengan jaringan distribusi utama akan disambungkan langsung ke kisi-kisi nasional (grid), sementara daerah terisolasi seperti di Papua akan dipasok menggunakan sistem skala kecil atau mini-grid berbasis potensi lokal seperti hidro mikro dan panel surya.

Langkah ini melengkapi program elektrifikasi nasional yang terus berjalan. Hingga 2025, program listrik masuk desa telah menjangkau 1,516 lokasi dan menyalurkan akses energi bagi 77.616 rumah tangga.

Yudhiawan menegaskan bahwa percepatan EBT ini merupakan bagian dari strategi besar menuju kedaulatan energi nasional yang bertumpu pada tiga pilar utama: kemandirian energi, ketahanan energi, dan swasembada energi. Selain dorongan EBT, pemerintah juga menargetkan peningkatan cadangan penyangga energi nasional dari 18–21 hari menjadi setidaknya 30 hari melalui penambahan kapasitas penyimpanan minyak mentah serta percepatan adopsi kendaraan listrik dan konversi gas bumi.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia tawarkan proyek PLTS 100 GW kepada investor China
SUMBER:TRT Indonesia