Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan aktivitas kelompok teroris di Indonesia semakin banyak memanfaatkan ruang digital, mulai dari perekrutan anggota hingga penyebaran propaganda. Kondisi tersebut mendorong pemerintah memperkuat kerja sama lintas kementerian untuk mencegah penyebaran paham radikal, terutama di kalangan anak, remaja, dan perempuan.
Kepala BNPT Eddy Hartono mengatakan internet kini menjadi salah satu medium utama yang digunakan jaringan terorisme dalam menjalankan aktivitasnya.
"Internet menjadi sarana yang cukup signifikan dalam kegiatan kelompok terorisme. Yaitu rekrutmen, propaganda, dan pembinaan teror," kata Eddy.
Dalam kesempatan terpisah pada acara Penguatan Kolaborasi Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) 2026–2029, Eddy menambahkan bahwa ancaman terorisme terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Menurutnya, ruang digital kini dimanfaatkan secara efektif untuk tiga aktivitas utama, yakni perekrutan anggota, kontra-propaganda, dan pendanaan terorisme. Ia menilai perempuan, anak-anak, dan remaja menjadi kelompok yang paling rentan terpapar paham ekstremisme melalui platform digital.
Eddy mengungkapkan, sepanjang 2024 hingga akhir 2025 BNPT telah melakukan mitigasi terhadap sekitar 220 anak di 18 provinsi melalui program rehabilitasi bersama Kementerian Sosial.
Selain itu, sekitar 739 anak yang terpapar paham radikal melalui media sosial maupun kelompok daring juga mendapat pendampingan, mulai dari proses identifikasi, rehabilitasi, hingga reintegrasi sosial.



















