BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Penerapan B50 hemat devisa negara hingga Rp170 triliun, pangkas impor solar secara signifikan
Implementasi mandatori B50 berhasil menghemat devisa hingga Rp170 triliun. Kebijakan ini memangkas impor solar dan telah disalurkan di 94 persen SPBU Pertamina.
Penerapan B50 hemat devisa negara hingga Rp170 triliun, pangkas impor solar secara signifikan
Botol bahan bakar biodiesel kelapa sawit 50% dalam acara uji coba B50 di Lembang. / reuters

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat penerapan mandatori biodiesel 50 persen (B50) berhasil menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun (sekitar 9,66 miliar dolar AS). Penghematan signifikan ini diperoleh dari pemangkasan volume impor minyak solar secara masif.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa kebijakan energi berbasis kelapa sawit ini secara nyata memperkuat cadangan devisa sekaligus mempercepat kemandirian energi nasional.

Melalui penerapan B50, Indonesia berhasil memangkas separuh dari total kebutuhan impor solar yang sebelumnya mencapai angka tertinggi 18 juta kiloliter.

"Jika produksi (lifting) minyak mentah kita berada di angka 610.000 barel per hari, produksi minyak nabati kita sudah mencapai hampir setengahnya, yaitu 300.000 barel per hari," ujar Eniya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (8/9).

Selain menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, program B50 juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan perekonomian nasional.

Data Kementerian ESDM mencatat bahwa inisiatif bahan bakar nabati ini diproyeksikan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton serta menyerap tenaga kerja sebanyak 2,1 juta orang sepanjang tahun 2026.

Distribusi B50 jangkau 94 persen SPBU

Secara terpisah, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, melaporkan bahwa penyaluran B50 telah menjangkau mayoritas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh Indonesia.

Sebanyak 6.050 dari total 6,412 SPBU—atau sekitar 94 persen—telah aktif menyalurkan B50 kepada masyarakat. Penetrasi pasar di delapan wilayah operasional pemasaran (Marketing Operation Region/MOR) Pertamina rata-rata telah melampaui angka 90 persen.

"Masih ada 362 SPBU yang belum menyalurkan B50 karena saat ini sedang menghabiskan sisa stok B40 yang ada," jelas Ega.

Wilayah Maluku dan Papua menjadi satu-satunya area dengan tingkat penyaluran sebesar 65 persen, mengingat depot pasokan lokal masih berada dalam proses menghabiskan sisa persediaan B40 sebelum beralih sepenuhnya ke B50.

TerkaitTRT Indonesia - Penyaluran biodiesel B50 di Indonesia capai 80 persen, targetkan 100 persen pada Oktober
SUMBER:TRT Indonesia