BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Rupiah tertekan hingga Rp18.183 per dolar AS di tengah lonjakan harga minyak
BI terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan kalangan korporasi, pelaku pasar, serta pihak-pihak terkait lainnya untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Rupiah tertekan hingga Rp18.183 per dolar AS di tengah lonjakan harga minyak
Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs referensi BI tercatat sebesar Rp18.183 per dolar AS pada Rabu (28/10). / Arsip Reuters

Bank Indonesia (BI) menyatakan nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah, penguatan dolar Amerika Serikat, serta keluarnya modal asing dari pasar negara berkembang. Pada Rabu (28/10), kurs rupiah mendekati Rp18.200 per dolar AS.

Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs referensi BI tercatat sebesar Rp18.183 per dolar AS pada Rabu (28/10).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan ketidakpastian geopolitik turut mempertahankan harga minyak di atas $115 per barel. Kondisi tersebut meningkatkan risiko fiskal ke depan, sementara ekspektasi kenaikan suku bunga AS ikut menguat.

Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut memengaruhi arus modal. Menurut Erwin, peningkatan kebutuhan valuta asing menjelang akhir bulan juga menambah tekanan terhadap rupiah.

Meski demikian, BI menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan. Sepanjang Oktober, rupiah tercatat melemah 1,15 persen. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tetap berada di level $146,3 miliar.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi di pasar keuangan untuk memastikan perdagangan berlangsung tertib dan pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.

Langkah stabilisasi tersebut dilakukan melalui transaksi non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pasar spot. BI juga membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Sebelumnya, pada Selasa (27/10), rupiah telah melemah melewati Rp18.100 per dolar AS. Tekanan di pasar keuangan domestik juga terlihat dari penurunan indeks saham lebih dari satu persen pada sesi perdagangan sebelumnya serta aksi jual bersih oleh investor asing.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun dalam sepekan terakhir turut mencerminkan tekanan jual di pasar obligasi. Di tengah pelemahan rupiah, harga emas global justru meningkat hingga melampaui $4.000 per ons.

TerkaitTRT Indonesia - Bank Indonesia tahan suku bunga acuan di level 5,75 persen di tengah gejolak pasar
SUMBER:TRT Indonesia