IKLIM
2 menit membaca
Kabut asap karhutla pekat, kualitas udara Palangka Raya sentuh level berbahaya
Kabut asap pekat akibat karhutla menyelimuti Palangka Raya hingga memicu lonjakan indeks kualitas udara ke level berbahaya, seiring meluasnya titik panas dan kemarau di Kalimantan Tengah.
Kabut asap karhutla pekat, kualitas udara Palangka Raya sentuh level berbahaya
Para pengendara mobil melaju dengan lampu depan menyala di jalan yang diselimuti kabut di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah pada 20 Agustus 2026. / AFP

Kualitas udara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, memburuk tajam menyusul kepulan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan data satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua melalui laman resmi pemerintah kota pada Rabu (19/8/2026), indeks standar kualitas udara (Air Quality Index/AQI) menembus angka 487—menempatkan wilayah tersebut dalam kategori berbahaya bagi kesehatan manusia.

Dampak kebakaran lahan gambut dan hutan ini kian terasa di lapangan. Jarak pandang di sejumlah titik perkotaan merosot hingga 1,4 kilometer, memicu risiko keselamatan berlalu lintas dan ancaman gangguan pernapasan akut bagi warga.

Ribuan titik panas dan darurat perlindungan diri

Lonjakan polusi ini beriringan dengan eskalasi karhutla di tengah kemarau ekstrem yang diperparah fenomena El Nino. Sebanyak 1.795 titik panas terdeteksi di seluruh Kalimantan Tengah, dengan 281 titik di antaranya berada di dalam wilayah administratif Kota Palangka Raya—tersebar di Kecamatan Jekan Raya, Sabangau, Bukit Batu, hingga Rakumpit. Data Greenpeace Indonesia yang dirilis melalui AFP turut mencatat sedikitnya 592 sebaran titik panas di Pulau Kalimantan.

Pemerintah daerah mengimbau warga mengambil langkah perlindungan ekstra di tengah kepungan polutan mikro.

"Dengan AQI mencapai 487 yang berarti kategori berbahaya, serta 281 titik panas di dalam kota, kami meminta seluruh masyarakat untuk segera meningkatkan perlindungan diri. Hindari aktivitas di luar ruangan sebisa mungkin, dan wajib gunakan masker saat harus keluar rumah," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya Heri Fauzi.

Perjuangan di lahan gambut yang mengering

Di garis depan, para relawan pemadam kebakaran berjibaku menembus lahan gambut yang mengering. Kelangkaan sumber air dan asap tebal menjadi hambatan utama pemadaman darat.

"Pasti kendalanya air, terutama air. Kenapa air? Karena tidak ada air, sudah kering di musim kemarau ini," ungkap Deni, salah satu relawan pemadam kebakaran. Ia menambahkan bahwa sesak napas kerap memaksanya beristirahat sejenak di tengah kepulan asap sebelum kembali membasahi bara api.

Pemerintah pusat perketat larangan dan siapkan armada udara

Merespons krisis yang meluas, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni langsung meninjau lokasi kebakaran di Palangka Raya. Pemerintah menegaskan larangan keras pembukaan lahan dengan metode pembakaran, baik untuk korporasi skala besar maupun perorangan.

"Tidak boleh lagi ada pembukaan lahan musim ini dengan cara membakar. Pembukaan lahan dengan membakar dilarang keras, baik oleh korporasi—terutama korporasi besar—maupun masyarakat luas," tegas Raja Juli Antoni.

Sebagai langkah mitigasi cepat, pemerintah pusat menyiapkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) serta penguatan armada udara. Sebanyak lima unit helikopter water bombing telah diterjunkan ke titik-titik krusial, dengan opsi penambahan armada jika eskalasi api di lapangan terus meningkat.

TerkaitPuluhan personel padamkan kebakaran lahan di Palangkaraya - TRT Indonesia - TRT Indonesia
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi