Komisi Uni Eropa menyatakan kesiapannya untuk membantu operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di Indonesia pascabencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut ditawarkan melalui pengerahan sistem satelit pengamatan bumi, Copernicus.
Pernyataan dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen melalui akun resmi media sosial X miliknya pada Sabtu (15/6).
"Dari solidaritas menuju aksi nyata, Eropa selalu siap mengerahkan Copernicus, 'mata kami di langit', guna mendukung upaya pencarian dan penyelamatan. Indonesia, kami bersama kalian," tulis von der Leyen.
Program observasi bumi milik Uni Eropa ini dirancang untuk menyediakan pemetaan citra satelit secara cepat di area terdampak bencana. Melalui data geospasial tersebut, otoritas penanggulangan bencana di tanah air dapat lebih mudah memetakan tingkat kerusakan fisik, mengidentifikasi sebaran permukiman yang terisolasi, serta menentukan arah prioritas tim penyelamat di titik-titik paling kritis.
Kehadiran data citra satelit dinilai sangat krusial mengingat operasi darurat di lapangan menghadapi rintangan berat, mulai dari tebing longsor, kerusakan jembatan dan jalan, hingga terputusnya jaringan telekomunikasi.
Guncangan seismik berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi di lepas pantai NTT pada Jumat (14/8) malam tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami sebelum akhirnya dicabut setelah terdeteksi gelombang kecil di bawah satu meter. Hingga kini, tim SAR gabungan terus berupaya mengevakuasi korban dan menyisir lokasi reruntuhan di tengah tantangan medan yang berat.



















