Pemerintah Indonesia mempercepat pengembangan industri kendaraan listrik (EV) dengan menargetkan produksi massal mobil listrik buatan dalam negeri paling lambat pada 2028. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk mendorong adopsi kendaraan listrik di ekonomi terbesar Asia Tenggara sekaligus memperkuat kemandirian industri nasional.
Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (13/8) menyampaikan bahwa pemerintah tengah membangun kompleks pabrik besar di Subang, Jawa Barat, sebagai pusat produksi mobil listrik nasional.
Proyek tersebut mencakup pengembangan awal seluas 60 hektare dengan kapasitas hingga 50 ribu unit per tahun, yang nantinya akan diperluas menjadi 539 hektare dengan potensi produksi mencapai 300 ribu kendaraan setiap tahun.
Target ini disampaikan bersamaan dengan peluncuran program Motor Listrik Nasional (MoLiNas) di fasilitas produksi ALVA, Cikarang. Program tersebut dirancang untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi, mulai dari manufaktur, baterai, hingga infrastruktur pengisian dan layanan purna jual.

Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong kemandirian teknologi nasional.
“Hari ini adalah salah satu contoh yang baik dari apa yang saya sebut Indonesia Incorporated. Keberhasilan suatu bangsa di era modern adalah kemampuan menguasai sains dan teknologi,” ujarnya.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai insentif untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik, khususnya roda dua. CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan bank-bank milik negara akan menyediakan pembiayaan murah dengan tenor panjang untuk pembelian motor listrik.
Selain itu, pemerintah tengah mempertimbangkan skema tukar tambah bagi masyarakat yang ingin beralih dari sepeda motor konvensional ke kendaraan listrik.
Tak hanya itu, rencana subsidi sebesar Rp5 juta per unit untuk motor listrik dengan kuota hingga 500 ribu unit juga tengah disiapkan. Untuk mobil listrik, pemerintah membuka opsi pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) hingga 100 persen bagi model tertentu.
Rosan menegaskan bahwa pengembangan MoLiNas merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam negeri.
“Ini sangat strategis, karena sesuai arahan Presiden bahwa kita harus mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri dalam setiap kegiatan ekonomi,” kata dia.
Melalui berbagai kebijakan tersebut, Indonesia menargetkan memiliki 13 juta sepeda motor listrik dan 2 juta mobil listrik yang beroperasi di jalan pada 2030. Pemerintah berharap langkah ini tidak hanya mempercepat transisi energi, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri kendaraan listrik global.
























