Indonesia dan Jepang sepakat untuk mempererat kerja sama dalam pengembangan teknologi persinyalan serta sistem telekomunikasi moda transportasi kereta api nasional.
Komitmen tersebut diresmikan melalui penandatanganan Head of Agreement (HoA) antara PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ) dan Nippon Signal Co., Ltd. Acara penandatanganan berlangsung di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo dengan disaksikan langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir.
Kemitraan ini bertujuan untuk memodernisasi sistem perkeretaapian di Indonesia sekaligus menaikkan standar keselamatan penumpang ke tingkat internasional. Penandatanganan HoA tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara PT MITJ Business Matching Forum yang mempertemukan PT MITJ bersama mitranya, PT Duta Sarana Perkasa, dengan lebih dari 10 perusahaan asal Jepang.
Forum bisnis tersebut digelar untuk menjajaki potensi kolaborasi pada proyek segmen terowongan pra-cetak (precast tunnel segment) untuk MRT Jakarta Fase 3 Jalur Timur–Barat (East–West Line). Pembahasan mencakup kerja sama industri beton pra-cetak, pengembangan kawasan berorientasi transit (transit-oriented development/TOD), hingga adopsi teknologi perkeretaapian mutakhir.
Proyek pengembangan transportasi ini didukung oleh skema pendanaan bantuan pembangunan resmi (Official Development Assistance/ODA) melalui Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) senilai 140 miliar yen atau setara sekitar 883,44 juta dolar AS.
Duta Besar Kartini menyampaikan bahwa kerja sama sektor transportasi antar kedua negara yang telah terbangun lewat proyek MRT Jakarta kini melangkah ke fase yang lebih maju.
"MRT Jakarta merupakan simbol nyata persahabatan antara Indonesia dan Jepang. Hal ini tidak hanya mencakup pembangunan fisik semata, tetapi juga teknologi keselamatan dan persinyalan yang dirancang untuk melindungi jutaan penumpang setiap harinya," ujar Kartini.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT MITJ Fuad I.Z. Fachroeddin menegaskan bahwa kesepakatan ini menjadi langkah strategis untuk menghadirkan standar keamanan kelas dunia di wilayah Jabodetabek. Menurutnya, perpaduan presisi teknologi Jepang dengan kebutuhan mobilitas di Indonesia akan melahirkan sistem transportasi yang lebih aman, andal, dan terintegrasi.
Selain penandatanganan HoA, agenda kegiatan di Tokyo juga diisi dengan presentasi teknis mengenai proyek terowongan MRT serta pertemuan bisnis guna mendorong masuknya investasi dan transfer teknologi Jepang ke Indonesia.




















