DUNIA
2 menit membaca
Jepang berjanji perketat langkah lawan spionase asing usai laporan jaringan mata-mata Rusia
Jepang akan memperketat upaya kontraintelijen setelah laporan The New York Times menyebut Rusia memanfaatkan lemahnya undang-undang spionase negara itu untuk mengumpulkan intelijen dan memperoleh komponen teknologi bagi perang di Ukraina.
Jepang berjanji perketat langkah lawan spionase asing usai laporan jaringan mata-mata Rusia
ARSIP: Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara berbicara dalam konferensi pers di Tokyo, Selasa, 7 April 2026. /AP

Jepang pada Senin (13/7) mengakui perlunya memperkuat upaya menghadapi aktivitas intelijen asing setelah The New York Times melaporkan bahwa Rusia telah menjadikan negara itu sebagai "sarang mata-mata" sekaligus sumber penting komponen persenjataan.

Dalam investigasi yang diterbitkan pada Minggu (12/7), The New York Times melaporkan bahwa Moskow memanfaatkan "lemahnya undang-undang spionase" di Jepang untuk menjadikan negara tersebut sebagai pusat pengumpulan intelijen dan pengadaan teknologi dwiguna yang dibutuhkan dalam perang di Ukraina.

"Kami menyadari bahwa di tengah lingkungan keamanan yang berubah dengan cepat, kebutuhan untuk menghadapi aktivitas intelijen asing, seperti upaya memperoleh informasi penting yang mengancam keamanan nasional Jepang, semakin meningkat," kata Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara pada Senin.

Kihara menolak mengomentari secara langsung laporan surat kabar AS tersebut. Namun, ia mengatakan kepada wartawan bahwa Tokyo "harus menangani persoalan ini dengan langkah yang lebih tegas."

Laporan itu mengutip perkiraan pemerintah Ukraina yang menyebut sekitar 90 persen rudal dan drone Rusia mengandung komponen buatan Jepang.

Disebutkan pula bahwa operasi Rusia di Jepang dikendalikan oleh Maksim Vladimirovich Filchenkov, seorang agen intelijen Rusia yang menyamar sebagai staf di kantor maskapai Rusia Aeroflot di Tokyo.

Karena ekspor langsung ke Rusia dibatasi, jaringan pengadaan disebut memanfaatkan perusahaan perantara serta negara ketiga seperti Vietnam, Uzbekistan, dan Sri Lanka untuk mengirimkan komponen ke Rusia, tambah The New York Times.

Kihara juga mengatakan parlemen Jepang tahun ini telah mengesahkan undang-undang yang membuka jalan bagi pembentukan badan nasional baru untuk mengoordinasikan aktivitas intelijen yang selama ini tersebar di berbagai lembaga.

SUMBER:TRT World & Agencies