Presiden Prabowo Subianto menetapkan ambisi besar bagi sektor energi Indonesia: menghentikan ketergantungan pada impor minyak dan LPG dalam waktu sesingkat mungkin, dengan pembangunan kapasitas energi baru sebagai salah satu penopang utamanya.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo ketika meluncurkan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp di Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8). Dalam pidatonya, Presiden menegaskan bahwa Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan energinya dari sumber domestik.
“Dengan geotermal yang kita punya, dengan ladang-ladang gas yang kita sudah ketemukan, dengan lifting minyak yang harus naik terus, kita tidak boleh impor lagi satu barrel pun minyak,” ujar Prabowo.
Prabowo juga menyampaikan target serupa untuk LPG. Pemerintah, menurutnya, harus segera mengakhiri kebutuhan mendatangkan komoditas tersebut dari luar negeri.
“Kita tidak boleh impor lagi, insyaallah dalam waktu sesingkat-singkatnya, satu tabung LPG pun kita tidak boleh impor lagi,” ujarnya.
Target itu diserahkan kepada jajaran pemerintah untuk diwujudkan. Presiden secara khusus meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan kebijakan tersebut dapat dijalankan. Bahlil menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan arahan Presiden.
Untuk memperkuat basis energi domestik, pemerintah menargetkan pembangunan kapasitas PLTS hingga 100 GWp. Proyek tersebut dijadwalkan selesai dalam tiga tahun, meski Prabowo menyatakan peluang penyelesaiannya dalam waktu dua tahun juga terbuka.
Prabowo menyebut total kapasitas pembangkitan nasional dari berbagai sumber—termasuk batu bara, minyak, gas, dan panas bumi—berada di sekitar 88 GW. Dengan demikian, kapasitas surya baru yang direncanakan hampir menyamai seluruh kapasitas listrik yang telah dimiliki Indonesia.
















