Negara-negara ekonomi utama dunia sepakat memperkuat kerja sama multilateral guna menghadapi tantangan terhadap stabilitas ekonomi global akibat perang di Timur Tengah, usai pertemuan di Paris yang juga menyoroti ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutunya.
Pertemuan para menteri keuangan G7 berlangsung ketika perekonomian dunia menghadapi dampak perang AS-Israel melawan Iran. Di saat yang sama, negara-negara Eropa juga khawatir terhadap kebijakan tarif besar-besaran pemerintahan Presiden Donald Trump serta potensi melunaknya sikap Washington terhadap Rusia.
“Kami telah melakukan diskusi yang terbuka, kadang sulit, dan langsung untuk mencari solusi jangka pendek maupun jangka panjang terhadap tantangan ekonomi global demi menjamin stabilitas ekonomi,” kata Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure pada Selasa setelah pertemuan yang turut dihadiri Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Namun, komunike akhir para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G7 kembali menegaskan “komitmen kami terhadap kerja sama multilateral dalam menghadapi risiko terhadap ekonomi global.”
Di tengah perang di Timur Tengah, pernyataan itu menyoroti adanya “berbagai tantangan global yang kompleks dan membutuhkan respons terkoordinasi”.
“Ketidakpastian ekonomi telah meningkatkan risiko terhadap pertumbuhan dan inflasi di tengah konflik yang masih berlangsung,” bunyi pernyataan tersebut.
Tekanan terhadap energi dan pangan
Pernyataan bersama itu juga menyoroti “tekanan terhadap rantai pasok energi, pangan, dan pupuk” yang dinilai paling berdampak pada negara-negara rentan.
G7 mendesak “pemulihan cepat jalur transit yang bebas dan aman” di Selat Hormuz, jalur perairan strategis di Teluk yang aktivitas pengirimannya masih sangat terbatas setelah Iran menerapkan blokade efektif sejak awal perang.
Pertemuan di Paris yang digelar dalam presidensi bergilir G7 oleh Prancis itu menjadi persiapan menuju KTT G7 di kawasan resor Evian, Pegunungan Alpen Prancis, pada Juni mendatang yang akan dipimpin Presiden Emmanuel Macron dan diperkirakan dihadiri Trump.
Sejalan dengan upaya Macron memperluas relevansi G7—yang terdiri dari Kanada, Jerman, Prancis, Italia, Jepang, Inggris, dan AS—sejumlah negara nonanggota seperti Brasil, India, Kenya, dan Korea Selatan turut diundang dalam pertemuan di Paris.
“Saya pikir kami telah membuat kemajuan besar sehingga para pemimpin kami nantinya di Evian dapat menyelesaikan isu-isu penting dan sangat konkret seperti mineral kritis dan penyelesaian ketidakseimbangan global,” kata Lescure.
Beda pandangan soal Rusia
Di tengah meningkatnya kekhawatiran atas lonjakan harga minyak akibat perang di Timur Tengah, AS membuat sekutunya gelisah setelah mengumumkan perpanjangan sementara penangguhan sanksi terhadap minyak Rusia yang disimpan di laut.
Meski demikian, Lescure menegaskan bahwa “keinginan untuk terus menekan Rusia bersifat bulat.”
Namun sebelum hari kedua pembicaraan dimulai, Komisaris Ekonomi Uni Eropa Valdis Dombrovskis mengecam kebijakan terbaru AS yang melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia.
“Dari sudut pandang Uni Eropa, kami tidak melihat ini sebagai waktu yang tepat untuk mengurangi tekanan terhadap Rusia,” kata Dombrovskis.
“Justru Rusia adalah pihak yang diuntungkan dari perang di Iran dan kenaikan harga bahan bakar fosil. Jika ada yang perlu dilakukan, itu adalah memperkuat tekanan,” ujarnya.
Pengumuman tersebut disampaikan Washington setelah hari pertama pembicaraan pada Senin. Bessent mengatakan di X bahwa langkah itu akan “memberikan fleksibilitas tambahan” dan “membantu menstabilkan pasar minyak mentah fisik”.
“Sekretaris Bessent meyakinkan kami bahwa ini hanya langkah sementara, tetapi kami tahu ini sudah menjadi perpanjangan kedua dari kebijakan yang awalnya hanya dimaksudkan berlaku selama 30 hari,” kata Dombrovskis.
Dalam unggahan di X, Bessent mengatakan dirinya menggelar “diskusi konstruktif” di Paris terkait sejumlah isu, termasuk ketidakseimbangan global, keamanan siber, “ancaman terorisme dari Iran”, dan mineral kritis.
Pasokan mineral mentah kritis yang digunakan dalam berbagai produk diperkirakan menjadi salah satu isu utama dalam KTT para pemimpin nanti.
Negara-negara Barat menuduh China—yang bukan anggota G7 dan tidak diundang dalam pertemuan—membatasi ekspor dan memanfaatkan posisi dominannya di sektor tersebut.









