Indonesia Investment Authority (INA) menempati posisi kedua di antara dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) di Asia dalam aspek tata kelola, keberlanjutan, dan ketahanan institusi, berdasarkan pemeringkatan Governance, Sustainability and Resilience (GSR) Scoreboard 2026 yang dirilis Global SWF.
Capaian ini menempatkan INA tepat di bawah Temasek Holdings milik Singapura, sekaligus menandai meningkatnya pengakuan global terhadap standar tata kelola lembaga investasi Indonesia tersebut.
Dalam laporan tersebut, INA meraih skor keseluruhan 92 persen. Penilaian rinci menunjukkan skor 9 dari 10 untuk aspek tata kelola, 9 dari 10 untuk keberlanjutan, serta nilai sempurna 5 dari 5 untuk ketahanan institusi. Penilaian dilakukan secara independen oleh Global SWF, lembaga riset yang memantau sekitar 200 dana kekayaan negara dan dana pensiun publik di seluruh dunia.
Ketua Dewan Direktur INA, Oki Ramadhana, menilai pencapaian ini datang pada saat faktor tata kelola dan kredibilitas institusi menjadi pertimbangan utama investor global, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik.
“Di tengah ketidakpastian, ketegangan geopolitik, dan perubahan lingkungan ekonomi global, GSR Scoreboard menjadi semakin penting bagi institusi yang ingin menarik investasi, khususnya bagi INA yang memiliki mandat menghimpun investasi domestik dan asing ke Indonesia,” ujar Oki dalam konferensi pers di Jakarta.
Menurutnya, investor global kini tidak lagi hanya menilai dana kekayaan negara dari besaran aset atau portofolio investasi semata, melainkan juga dari kualitas tata kelola, transparansi, disiplin investasi, serta ketahanan institusinya. Ia menegaskan bahwa tata kelola menjadi faktor paling krusial dalam menarik mitra investasi internasional.
“Apa yang paling penting adalah governance. Mitra investasi global kami melihat tata kelola sebagai faktor utama dalam memilih partner untuk berinvestasi di Indonesia,” katanya.
GSR Scoreboard sendiri mengukur sekitar 25 indikator yang mencakup tiga pilar utama: tata kelola, keberlanjutan, dan ketahanan institusi. Indeks ini kerap dijadikan acuan oleh investor dalam menilai kredibilitas dan kesiapan suatu lembaga sebagai mitra investasi jangka panjang.

Sejak didirikan pada 2021, INA mencatat peningkatan kinerja yang signifikan dalam penilaian tersebut. Skornya naik dari 24 persen pada 2021 menjadi 52 persen pada 2022, kemudian 56 persen pada 2023, 60 persen pada 2024, 68 persen pada 2025, hingga mencapai 92 persen pada 2026.
Pemerintah Indonesia berharap capaian ini dapat memperkuat kepercayaan investor global serta mendorong arus investasi yang lebih besar ke dalam negeri, seiring upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi strategis di kawasan.





















