Cara dalam ‘operasi’ China merekrut mata-mata lewat portal kerja
BISNIS DAN TEKNOLOGI
6 menit membaca
Cara dalam ‘operasi’ China merekrut mata-mata lewat portal kerjaPara perekrut dari China disebut menjangkau ribuan profesional di seluruh dunia melalui situs lowongan kerja dengan tujuan diduga mencuri rahasia pemerintah, industri, maupun teknologi.
Pendekatan digital menandai evolusi signifikan dari spionase tradisional, yang lebih lambat dan lebih mahal. / Reuters

Lembaga intelijen China diduga memanfaatkan platform jejaring profesional seperti LinkedIn untuk merekrut tenaga ahli asing yang memiliki akses ke informasi sensitif.

Sejumlah kasus yang dilaporkan selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa tawaran kerja yang tidak diminta atau undangan konferensi dengan fasilitas hotel gratis kerap menjadi awal dari jebakan yang lebih kompleks.

Skema perekrutan ini menggabungkan tawaran pekerjaan jangka pendek yang terdengar sah dari organisasi yang tampak kredibel, dengan tuntutan bertahap untuk mengakses informasi rahasia yang hanya dimiliki segelintir orang.

Para ahli menilai, skala operasi yang besar telah secara drastis menurunkan hambatan biaya dan logistik dalam aktivitas spionase.

Mark Button, co-director Centre for Cybercrime and Economic Crime di University of Portsmouth, Inggris, mengatakan kepada TRT World bahwa terdapat “ribuan iklan palsu” yang dipasang perekrut mencurigakan untuk menjebak individu ke dalam aktivitas spionase.

“Mereka biasanya menargetkan orang-orang yang sangat berguna… yang bekerja di intelijen atau penelitian dan pengembangan di industri penting. (Mereka) memulai dari konsultasi atau pekerjaan… yang kemudian mengarah pada keterlibatan dalam spionase,” ujarnya.

Pendekatan digital ini menandai evolusi besar dari spionase tradisional yang selama ini lebih lambat dan mahal.

Akademisi Türkiye, Nurettin Akcay, yang meraih gelar PhD dari Departemen Studi Global Shanghai University, mengatakan kepada TRT World bahwa intelijen China menggunakan dua metode utama dalam perekrutan mata-mata.

Metode pertama adalah menjangkau target yang sedang berada di China, seperti mahasiswa, akademisi, diplomat, atau pelaku bisnis.

“Metode kedua yang paling umum adalah mengidentifikasi dan menghubungi target melalui aplikasi pencarian kerja tertentu atau media sosial. Platform yang paling menonjol adalah LinkedIn,” ujarnya.

Akcay juga menyoroti adanya dukungan resmi terhadap praktik tersebut.

Dalam pernyataan bersama tahun 2022, FBI Amerika Serikat dan MI5 Inggris memperingatkan bahwa China melakukan spionase siber dalam skala besar melalui aplikasi media sosial.

Awal pekan ini, FBI juga menutup lebih dari puluhan situs yang diduga digunakan agen China untuk merekrut pejabat Amerika Serikat yang memiliki akses keamanan.

Situs-situs tersebut dibuat menyerupai perusahaan konsultan palsu, dengan lowongan seperti “International Affairs Analyst (Remote)” dan “Defence Analyst”.

Para perekrut disebut menggunakan foto hasil kecerdasan buatan, pencurian identitas, hingga pembayaran untuk laporan riset guna memperoleh informasi sensitif terkait hubungan AS–China, termasuk mekanisme sanksi.

Aliansi intelijen Five Eyes—yang terdiri dari AS, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru—baru-baru ini memperingatkan para profesional agar waspada terhadap operatif intelijen militer China yang menyamar sebagai karyawan perusahaan konsultan dan lembaga kajian.

Calon target, termasuk mereka yang memiliki akses keamanan, kerap diminta menyusun “laporan percobaan” sebagai pintu masuk keterlibatan lebih lanjut.

China sendiri mengecam peringatan dari aliansi Five Eyes tersebut dan menyebutnya sebagai “sepenuhnya palsu” serta “fitnah yang berniat buruk”.

Tanda bahaya yang perlu diwaspadai

Para ahli mengimbau profesional untuk mewaspadai pola tertentu yang digunakan perekrut mencurigakan.

Button menyebut ada sejumlah ciri dari profil dan pola pendekatan yang patut dicurigai.

“Beberapa hal utama adalah mereka sering menggunakan profil yang terlihat menarik, seringnya perempuan menarik, dan memiliki koneksi kuat ke organisasi bergengsi,” katanya.

Mereka biasanya memiliki jejaring profesional yang minim namun langsung menawarkan kesempatan, seperti undangan konferensi, pekerjaan, atau bayaran untuk menulis laporan.

“Setiap pendekatan yang tidak diminta dan langsung mengarah pada ajakan konferensi, pekerjaan, atau pembayaran adalah tanda bahaya,” tegas Button.

Akcay menambahkan bahwa target jarang langsung didekati sebagai mata-mata.

Sebaliknya, perekrut menyamar sebagai akademisi yang menawarkan konsultasi, insinyur sebagai mitra riset, atau mantan pejabat yang berbagi gagasan.

Intelijen China juga kerap membentuk perusahaan konsultan atau riset sebagai kedok, katanya.

Para akademisi dapat menerima undangan ke China untuk kolaborasi atau konferensi, yang awalnya difasilitasi melalui pusat-pusat afiliasi universitas sebelum akhirnya terhubung dengan jaringan intelijen.

“Setelah kepercayaan terbangun, mereka secara bertahap diarahkan ke area yang sensitif,” ujar Akcay.

Permintaan awal biasanya berupa laporan yang tidak berbahaya, disertai pembayaran yang menciptakan rasa keterikatan.

“Orang yang menerima tugas pertama dan pembayaran tersebut menjadi kandidat kuat bagi intelijen China. Dan secara bertahap, informasi yang diminta menjadi semakin sensitif,” katanya.

Teknik yang digunakan mencakup prinsip timbal balik melalui hadiah kecil atau permintaan simbolik, serta pembingkaian permintaan sebagai riset akademik untuk membuat target merasa wajar.

Sebuah penelitian yang ditulis bersama Button mengenai spionase ekonomi melalui profil media sosial palsu di Inggris mencatat pola respons terhadap permintaan koneksi di portal kerja.

Berdasarkan survei terhadap 2.000 profesional, sekitar seperempat responden belum siap menggunakan media sosial secara profesional dan cenderung menerima permintaan koneksi yang berisiko.

Individu dengan kecenderungan homofili—yang lebih memilih bergaul dengan orang yang mirip dengan mereka—cenderung menolak profil mencurigakan.

Sebaliknya, individu dengan kecenderungan heterofili—yang lebih mudah berinteraksi dengan orang dari latar berbeda—lebih rentan terhadap permintaan jaringan semacam itu.

Siapa target utamanya?

Para ahli menyebut target berbeda-beda di tiap negara, namun ada sektor yang menjadi prioritas utama.

Button menyoroti posisi intelijen senior dan pemerintahan, riset dan pengembangan pertahanan di teknologi mutakhir, serta sektor keuangan untuk memperoleh informasi kinerja perusahaan.

Akcay menekankan sektor teknologi sebagai prioritas utama, didorong kebijakan seperti “Made in China 2025” yang menargetkan kemandirian teknologi seperti kecerdasan buatan.

Di sektor pertahanan, perusahaan subkontraktor kecil lebih disukai karena sistem keamanan yang lebih lemah, katanya.

Sektor keuangan menjadi target sekunder, terutama terkait mekanisme sanksi dan kebijakan.

Di kawasan seperti Timur Tengah dan Afrika, para pembuat kebijakan juga menjadi target dalam skema perekrutan ini.

Metode berbasis media sosial kini disebut jauh lebih efektif dibanding metode tradisional.

Jika sebelumnya perekrut harus mengidentifikasi satu per satu pejabat riset senior di perusahaan, kini proses itu dapat dilakukan hanya dengan pencarian cepat di LinkedIn.

“LinkedIn dan media sosial sejenis membuat semuanya jauh lebih mudah… saya memperkirakan tingkat penetrasinya jauh lebih besar dibanding 20 tahun lalu,” kata Button.

Seorang pekerja media asal India kepada TRT World mengaku pernah dihubungi di LinkedIn oleh sebuah “global expert network company” untuk proyek riset persepsi merek dengan bayaran 300 dolar per jam. Ia menolak karena merasa ada yang janggal.

Akcay menyebut hampir “semua target asing” kini direkrut melalui platform daring.

Merujuk data Departemen Kehakiman AS periode 2015–2023, ia mengatakan sebagian besar kontak awal dilakukan melalui LinkedIn atau situs serupa.

MI5 juga melaporkan lebih dari 20.000 individu di Inggris telah dihubungi melalui LinkedIn dalam beberapa tahun terakhir dengan dugaan tujuan pencurian rahasia industri atau teknologi.

“Metode tradisional membutuhkan kontak fisik, identitas palsu, dan operasi lapangan jangka panjang. Namun platform digital hampir menghilangkan biaya tersebut,” kata Akcay.

SUMBER:TRT World