ASIA
2 menit membaca
Indonesia pimpin pusat komando ASEAN lawan polusi asap lintas batas
Peresmian sekretariat ACC THPC di Jakarta menjadi tonggak baru diplomasi lingkungan Indonesia dalam upaya mewujudkan kawasan Asia Tenggara bebas kabut asap secara permanen.
Indonesia pimpin pusat komando ASEAN lawan polusi asap lintas batas
Menteri LH Resmikan Komando Polusi Asap Lintas Batas. Foto: Kemenlh RI

Indonesia mempertegas posisinya sebagai pemimpin regional dalam isu lingkungan hidup dengan meresmikan Kantor Sekretariat ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control (ACC THPC). Pusat koordinasi ini berlokasi di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, Jakarta Timur, dan diproyeksikan menjadi pusat komando strategis untuk memutus rantai polusi asap lintas batas di kawasan.

Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, meresmikan langsung kantor tersebut pada Kamis (23/4). Ia menekankan bahwa sekretariat ini bukan sekadar simbol birokrasi, melainkan mesin penggerak aksi konkret antarnegara anggota ASEAN.

"Ini adalah simbol tekad kolektif negara-negara ASEAN untuk mewujudkan kawasan bebas asap melalui kerja sama yang lebih solid dan respons yang lebih cepat," tegas Hanif dalam seremoni peresmian tersebut.

Tiga fungsi utama kendali asap

Dibentuk di bawah kerangka ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP), ACC THPC dirancang untuk mengintegrasikan pengawasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap berdampak lintas negara. Pusat komando ini mengusung tiga fungsi strategis:

  • Pemantauan Real-Time: Menyediakan data titik panas (hotspot) dan kualitas udara secara akurat untuk seluruh kawasan.

  • Koordinasi Teknis: Memfasilitasi pertukaran tenaga ahli serta teknologi pemadaman mutakhir antarnegara.

  • Peringatan Dini: Mengaktifkan sistem pencegahan guna mengantisipasi eskalasi kebakaran, terutama saat memasuki musim kemarau ekstrem.

Sinkronisasi data nasional dan regional

Kehadiran sekretariat di Jakarta diharapkan mampu menjembatani integrasi data antara lembaga domestik seperti BNPB, Kementerian Kehutanan, dan KLH/BPLH dengan mitra internasional di ASEAN. Langkah ini sangat krusial mengingat penanganan karhutla di masa lalu sering terkendala oleh sekat-sekat koordinasi antarnegara.

Sebagai pemilik hutan tropis terbesar di Asia Tenggara, Indonesia menggunakan momentum ini untuk menunjukkan keberhasilan dalam menurunkan angka kebakaran melalui penguatan penegakan hukum dan restorasi ekosistem. Operasionalisasi penuh ACC THPC diharapkan dapat meminimalisir dampak kesehatan dan kerugian ekonomi yang selama ini menghantui negara-negara tetangga akibat polusi asap.

SUMBER:TRT Indonesia