Lawan kecanduan gadget, anak muda Türkiye justru ramai-ramai serbu perpustakaan
TÜRKİYE
5 menit membaca
Lawan kecanduan gadget, anak muda Türkiye justru ramai-ramai serbu perpustakaanMinat generasi muda terhadap perpustakaan di Türkiye melonjak tajam. Peningkatan ini didorong transformasi perpustakaan menjadi pusat belajar, kreativitas, dan pembelajaran digital oleh pemerintah.
Angka ini menandai capaian terbaru transformasi perpustakaan setelah satu dekade upaya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. / AA

Elif, seorang siswi SMA di Türkiye, menghabiskan beberapa sore dalam seminggu untuk belajar di perpustakaan lokalnya di Istanbul. Bagi banyak pengunjung muda sepertinya, perpustakaan menawarkan sesuatu yang kini semakin sulit ditemukan di tempat lain: suasana yang tenang dan kondusif untuk produktif.

“Di rumah terlalu banyak gangguan, terutama dari ponsel dan televisi. Di perpustakaan, saya bisa berkonsentrasi jauh lebih baik.”

Pengalaman Elif ini mencerminkan tren lebih luas yang tengah terjadi di seantero Türkiye.

Di saat para pendidik dan orang tua kian khawatir generasi muda kehilangan kemampuan fokus akibat paparan tiada henti dari unggahan media sosial, video, dan notifikasi, perpustakaan di negara tersebut justru mengalami masa kebangkitan yang luar biasa. Uniknya, fenomena ini justru dimotori oleh generasi yang sering dituding memiliki rentang perhatian (attention span) yang kian pendek.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Institut Statistik Türkiye, jumlah pengunjung perpustakaan umum di negara tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu empat tahun; meroket dari 15,7 juta orang pada tahun 2021 menjadi 39,2 juta orang pada tahun 2025. Sementara itu, angka keanggotaan juga naik 6,4 persen menjadi lebih dari 7,16 juta orang. Menariknya, sekitar 5,5 juta dari total anggota tersebut berusia 30 tahun atau lebih muda, termasuk sekitar 2,5 juta anak-anak dan remaja di bawah usia 18 tahun.

Angka-angka ini mengindikasikan bahwa, di tengah gempuran hiburan digital, semakin banyak anak muda di Türkiye yang justru mencari ruang khusus untuk membaca, belajar, dan melatih konsentrasi yang mendalam.

Lebih dari sekadar buku

“Meskipun konten digital berdurasi pendek dapat menurunkan rentang perhatian, tetap ada ceruk pembaca besar yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca buku,” ujar Taner Beyoglu, Direktur Jenderal Perpustakaan dan Publikasi di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Türkiye. “Mereka bukan hanya mahasiswa, melainkan individu dari berbagai kelompok usia dan profesi.”

Perpustakaan di Türkiye mencatatkan rekor kunjungan tertinggi pada tahun 2025. Hal ini merefleksikan transformasi besar yang mengubah perpustakaan dari yang tadinya hanya tempat penyimpanan buku yang sunyi, kini menjelma sebagai pusat pembelajaran, budaya, dan kehidupan komunitas yang dinamis.

Siswa SMA lainnya asal Istanbul, Mehmet, menuturkan bahwa perpustakaan kini jauh lebih menarik daripada yang dibayangkan banyak orang.

“Sekarang bukan lagi soal buku saja,” katanya. “Di sini ada ruang belajar yang nyaman, sumber daya digital, dan terkadang ada lokakarya atau acara seru. Saya bisa berkumpul dengan teman, belajar untuk kelas, dan menemukan buku-buku yang biasanya tidak akan saya temukan di internet.”

Meredefinisikan peran perpustakaan

Merujuk data dari Institut Statistik Türkiye, jumlah perpustakaan yang beroperasi di seluruh negeri telah mencapai 45.327 unit pada tahun 2025.

Angka tersebut menandai tonggak sejarah terbaru dari upaya selama satu dekade terakhir oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk meredefinisikan peran perpustakaan dalam masyarakat Türkiye.

“Perpustakaan adalah salah satu institusi terpenting untuk melestarikan dan mewariskan warisan budaya masyarakat,” kata Beyoglu.

“Saat ini, perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku. Perpustakaan telah bertransformasi menjadi pusat kehidupan di mana penelitian dilakukan, ide-ide kreatif dikembangkan, kegiatan seni digelar, serta tempat bertemunya pendidikan dan interaksi sosial.”

Jaringan perpustakaan di negara tersebut kini mencakup Perpustakaan Nasional Presiden (Presidential Nation’s Library), yang merupakan salah satu proyek perpustakaan terbesar dan paling ambisius di dunia dengan koleksi 2,71 juta volume buku. Selain itu, terdapat pula Perpustakaan Nasional di Ankara, 1.302 perpustakaan umum, 557 perpustakaan universitas, serta lebih dari 43.000 perpustakaan yang berafiliasi dengan lembaga pendidikan di seluruh negeri.

Dari tempat menyimpan buku menjadi pusat komunitas

Beyoglu menjelaskan bahwa pendekatan kementerian telah berkembang signifikan dalam beberapa tahun terakhir melalui model yang mereka sebut sebagai "Perpustakaan Hidup" (Living Library).

Alih-alih hanya berfungsi sebagai tempat membaca dan meminjam buku, perpustakaan umum sekarang menyediakan berbagai program edukasi. Program ini mencakup berbagai bidang, mulai dari literasi informasi dan teknologi digital hingga keberlanjutan lingkungan, seni, desain, bahasa, dan humaniora.

Strategi ini tampaknya disambut hangat oleh masyarakat. Menurut data kementerian, lebih dari 33.800 acara budaya, seni, pendidikan, dan sastra telah digelar di perpustakaan umum sepanjang tahun 2025, yang sukses menarik hampir 1,94 juta peserta.

Kini, pihak berwenang membidik target yang lebih tinggi, yaitu beralih dari konsep "Perpustakaan Hidup" menuju apa yang disebut Beyoglu sebagai "Perpustakaan Produktif" (Producing Libraries) – ruang yang dirancang tidak hanya untuk menyerap ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk menciptakannya.

Di bawah inisiatif baru ini, perpustakaan akan memfasilitasi berbagai lokakarya, program pelatihan, dan kegiatan praktis yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan, inovasi, berpikir kritis, literasi digital, serta produksi kreatif.

“Tujuannya adalah mengubah perpustakaan menjadi pusat peluang dan produktivitas yang berkontribusi pada pembangunan sosial, budaya, ilmiah, dan bahkan ekonomi negara,” jelas Beyoglu.

Membangun masa depan digital bagi pembaca dan peneliti

Kementerian terkait juga mempercepat langkah modernisasi layanan perpustakaan melalui pemanfaatan teknologi digital.

Perpustakaan universitas melaporkan adanya kenaikan koleksi buku digital (e-book) sebesar 17,1 persen, mencapai total 168,6 juta judul. Di tingkat nasional, pemerintah setempat tengah mengejar agenda transformasi digital yang ambisius, termasuk layanan perpustakaan berbasis kecerdasan buatan (AI) serta proyek digitalisasi skala besar.

Salah satu inisiatif utamanya adalah Proyek Perpustakaan Digital Nasional (National Digital Library Project), yang bertujuan untuk menciptakan kembaran digital dari Perpustakaan Nasional dan membuat jutaan akses sumber daya tersedia secara daring bagi masyarakat di seluruh negeri.

Stasiun akses digital pun telah dibangun di perpustakaan umum yang tersebar di puluhan provinsi, memungkinkan pengguna untuk mengakses koleksi digital tanpa harus bertolak langsung ke Ankara.

Buku, surat kabar, jurnal, peta, poster, kartu pos, hingga manuskrip langka menjadi bagian dari materi yang dialihkan ke dalam format digital, sehingga memperluas akses secara signifikan bagi para peneliti dan masyarakat umum.

Bagi Beyoglu, seiring dengan terus bertransformasinya perpustakaan di seluruh Türkiye, lonjakan kunjungan ini bukanlah tren sesaat, melainkan bukti dari pergeseran budaya yang lebih luas.

“Perpustakaan masa kini bukan lagi ruang sunyi tempat buku sekadar diawetkan,” pungkasnya. “Perpustakaan telah menjadi lingkungan yang hidup, di mana pendidikan, budaya, sosialisasi, dan inovasi digital melebur menjadi satu.”

SUMBER:TRT World