Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI secara agresif memburu kerja sama strategis dengan negara-negara di kawasan Amerika Latin dan Karibia. Langkah diplomatik ini ditujukan untuk memperkuat integrasi rantai pasok global di sektor mineral kritis yang menjadi tulang punggung industri masa depan.
Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemenlu RI, Grata Endah Werdaningtyas, menegaskan bahwa Indonesia dan kawasan Amerika Latin memiliki kesamaan potensi sebagai produsen utama sumber daya alam dunia.
"Salah satu sektor yang sedang kami kejar adalah mineral kritis. Ini adalah sektor yang akan menyokong industri-industri masa depan," ujar Grata dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (14/9).
Kawasan Amerika Latin dan Karibia saat ini menguasai 40 persen komoditas pertambangan dunia serta menyuplai 35 persen produksi litium global. Selain itu, kawasan tersebut memproduksi 90 persen niobiun (niobium) dunia—material krusial untuk penguat baja dan manufaktur superkonduktor—dengan Brasil sebagai produsen utamanya.
Bagi Indonesia yang telah menjadi raksasa nikel dan bauksit dunia, kemitraan dengan negara-negara seperti Brasil dan Cile bukan sekadar transaksi dagang biasa, melainkan strategi untuk mengubah dinamika perdagangan global.
Grata menyoroti pola historis di mana negara-negara berkembang kaya sumber daya kerap dijebak sebagai eksportir bahan mentah (raw materials), sementara nilai tambah dan pengolahan berteknologi tinggi dikuasai negara maju.
"Kita perlu berkolaborasi dengan mereka; ketika mereka kekurangan nikel, kita memilikinya. Ini tentang bagaimana kita mengembangkan rantai pasok sendiri untuk menaikkan posisi atau tawar kita di dalam seluruh industri masa depan ini," jelas Grata.
Fokus diplomasi ini mencakup peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi, penarikan investasi sektor midstream, serta kerja sama teknis di bidang pertambangan dan teknologi energi bersih.
Sebagai bentuk aksi nyata, Kemenlu RI bakal menggelar Indonesia-Latin America and the Caribbean (INA-LAC) Business Mission di Santiago, Cile, pada 1-2 Oktober 2026. Forum bisnis energi dan pertambangan tersebut akan menjadi panggung bagi perusahaan-perusahaan Indonesia untuk menawarkan peluang kemitraan konkret dengan pelaku industri kawasan setempat.























