Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono dan Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters memimpin pertemuan ke-13 Komisi Menteri Bersama atau Joint Ministerial Commission (JMC) di Auckland, pada Jumat (28/8). Kedua negara membahas perluasan kerja sama bilateral di sejumlah sektor strategis.
Pertemuan tersebut menghasilkan peluang kerja sama di bidang penyediaan protein, energi terbarukan, dan sertifikasi halal. Kedua menteri juga meninjau pelaksanaan Rencana Aksi 2025-2029 dan berkomitmen memperkuat tujuh pilar kemitraan komprehensif Indonesia-Selandia Baru.
Dalam sektor pangan, Indonesia mendorong kerja sama untuk memenuhi kebutuhan susu nasional melalui pengiriman ternak dari Selandia Baru. Sugiono mengatakan pembahasan juga mencakup akses pasar dan langkah untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan susu Indonesia.
Di sektor energi, Selandia Baru menyatakan ketertarikannya untuk memperluas kolaborasi energi terbarukan, khususnya panas bumi. Kerja sama ini diperkuat dengan pembaruan kemitraan energi terbarukan dan konservasi energi yang ditandatangani pada September 2024.
Salah satu programnya adalah Indonesia Aotearoa New Zealand Geothermal Cooperation (PINZ), yang menyediakan bantuan teknis dan penguatan kapasitas senilai NZ$15,64 juta untuk mengembangkan potensi panas bumi Indonesia. Selandia Baru juga mengalokasikan tambahan NZ$15 juta untuk fase kedua program NZMATES untuk memperluas akses listrik energi terbarukan di pulau-pulau terpencil dan kecil.
Target perdagangan bilateral
Kerja sama standar halal turut menjadi agenda pembahasan. Kedua negara telah memiliki pengaturan kerja sama standar halal dan pada JMC kali ini membahas tindak lanjut proses pengakuan lembaga halal Selandia Baru di Indonesia.
"Namun pada saat istilahnya ini diajukan ke Indonesia, ada proses yang lebih lanjut yang perlu dilakukan di Indonesia. Ini juga yang mereka sampaikan fokus mereka kepada kami, kita juga tadi bilang akan ditindaklanjuti," ujar Sugiono.
Di bidang ekonomi, kedua negara mencatat kemajuan menuju target perdagangan bilateral NZ$6 miliar pada akhir 2029. Mereka juga sepakat mendorong investasi dua arah, mengatasi hambatan perdagangan non-tarif, serta memperkuat konektivitas udara setelah penerbangan langsung Auckland-Bali sepanjang tahun mulai beroperasi.
Kedua negara turut memperkuat kerja sama pendidikan, pariwisata, pertanian, keamanan, pertahanan, maritim, dan penegakan hukum. Selandia Baru meningkatkan kuota beasiswa Manaaki untuk Indonesia dari 45 menjadi 70 penerima sejak 2025.
Dalam isu kawasan, Indonesia dan Selandia Baru menegaskan pentingnya peran sentral ASEAN, kebebasan navigasi, serta stabilitas Laut China Selatan berdasarkan hukum internasional dan UNCLOS. Kedua negara juga membahas situasi Myanmar, Gaza, dan perang di Ukraina.























