ASIA
2 menit membaca
Indonesia pimpin kolaborasi data keselamatan penerbangan Asia Pasifik di Bali
Kementerian Perhubungan mendorong penguatan pengawasan berbasis data melalui pertemuan regional bersama negara-negara ASEAN untuk menciptakan sistem penerbangan yang lebih proaktif dan terintegrasi.
Indonesia pimpin kolaborasi data keselamatan penerbangan Asia Pasifik di Bali
Kemenhub Dorong Kolaborasi Regional melalui Pertemuan Pertukaran Data Keselamatan Penerbangan. Foto: Kemenhub

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi menggelar pertemuan tatap muka ke-5 bertajuk In-Person Meeting on Regional Data Sharing Initiative di Bali, Senin (20/4). Pertemuan ini menjadi langkah krusial bagi Indonesia dan negara tetangga dalam memperkuat standar keselamatan udara di kawasan Asia Pasifik.

Acara yang berlangsung di Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IV ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) tentang inisiatif pertukaran data dan informasi keselamatan penerbangan regional yang telah disepakati pada 2024 lalu.

Transformasi pengawasan berbasis data

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara, Sokhib Al Rokhman, saat membuka pertemuan menekankan bahwa di tengah pesatnya pertumbuhan industri dirgantara, data telah bertransformasi menjadi instrumen paling vital dalam pengawasan.

“Seiring perkembangan industri penerbangan, data menjadi instrumen penting dalam mendukung pengawasan yang efektif. Melalui inisiatif ini, kita mengambil langkah konkret menuju pendekatan keselamatan yang lebih terkoordinasi dan berbasis data,” ujar Sokhib dalam keterangan resminya.

Langkah ini diambil guna memperkuat data-driven safety oversight atau pengawasan keselamatan berbasis data, yang memungkinkan regulator mendeteksi potensi risiko sebelum menjadi ancaman nyata.

Sinergi lintas batas

Pertemuan strategis ini dihadiri oleh perwakilan regulator penerbangan dari lima negara utama ASEAN, yakni Indonesia sebagai tuan rumah, Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Selain delegasi negara, organisasi internasional seperti International Air Transport Association (IATA) dan European Union Aviation Safety Agency (EASA) juga turut berpartisipasi.

Fokus utama pembahasan mencakup sejumlah isu teknis yang sangat spesifik, di antaranya:

  • Analisis laporan wajib (Mandatory Occurrence Report/MOR).

  • Evaluasi kejadian terkait Ground Proximity Warning System (GPWS).

  • Standardisasi metodologi pemantauan indikator kinerja keselamatan (Safety Performance Indicators/SPI).

  • Pengembangan dashboard digital untuk memantau tren keselamatan regional dan global secara real-time.

Komitmen global Indonesia

Bagi Indonesia, menjadi tuan rumah agenda ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan penegasan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam keselamatan penerbangan di kawasan. Kemenhub mengapresiasi kolaborasi yang telah menghasilkan wawasan bermakna bagi operasional penerbangan yang lebih aman.

“Pertemuan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga kesempatan untuk saling belajar dan merumuskan langkah konkret ke depan,” tutup Sokhib.

Dengan integrasi data antarnegara ini, diharapkan tercipta sistem keselamatan penerbangan yang lebih transparan dan berkelanjutan, sekaligus memberikan rasa aman yang lebih tinggi bagi jutaan penumpang yang melintasi langit Asia Pasifik setiap harinya.

SUMBER:TRT Indonesia