Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menyatakan kesiapan Jakarta untuk memfasilitasi dialog damai bagi pihak-pihak yang bertikai di Myanmar, seiring upaya kawasan mendorong rekonsiliasi di negara tersebut.
“Kami siap kalau Indonesia akan dijadikan tuan rumah. Saya kira Indonesia juga lebih bisa diterima untuk posisi tersebut,” ujar Sugiono di Jakarta, Selasa.
Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan Komisi Bersama Kerja Sama Bilateral (JCBC) ke-6 Indonesia-Vietnam. Sugiono mengatakan tawaran tersebut sebelumnya telah ia sampaikan dalam pertemuan informal para menteri luar negeri ASEAN dengan Myanmar di Bangkok sebelumnya pada Minggu (12/7).
Dalam forum tersebut, para menlu ASEAN meninjau perkembangan situasi di Myanmar dengan fokus pada implementasi Konsensus Lima Poin (5PC). Negara-negara anggota sepakat bahwa penyelesaian konflik harus bersifat inklusif dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Sugiono mengakui kemajuan menuju perdamaian patut dihargai, namun kompleksitas konflik membuat pelaksanaan 5PC membutuhkan waktu. Ia juga menekankan pentingnya mekanisme turunan ASEAN agar capaian implementasi dapat diukur lebih konkret, termasuk soal parameter penghentian kekerasan.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah mendorong dialog nasional yang inklusif di tengah konflik yang masih berlangsung.
“Dialog nasional yang inklusif dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan adalah kunci menuju perdamaian dan rekonsiliasi nasional yang berkelanjutan,” katanya.
Ia menegaskan, Konsensus Lima Poin tetap menjadi rujukan utama ASEAN, dengan fokus pada penghentian kekerasan, dialog inklusif, serta penyaluran bantuan kemanusiaan secara aman dan tanpa diskriminasi.





















