Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa sistem perbankan nasional tetap berada dalam kondisi solid untuk menghadapi risiko dari konflik di Timur Tengah, yang berpotensi memicu gejolak ekonomi global.
Dalam penyampaian hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026, Perry menjelaskan bahwa kekuatan sektor perbankan ditunjukkan oleh likuiditas yang memadai, permodalan yang tetap tinggi, serta tingkat risiko kredit yang terjaga rendah.
“Bank Indonesia perlu terus diperkuat di tengah menurunnya prospek perekonomian global. Berbagai respon kebijakan diperkuat untuk memitigasi dampak perlambatan ekonomi dunia dan mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dari permintaan domestik,” ujarnya.
Data menunjukkan rasio kecukupan modal (CAR) per Februari 2026 berada di level 25,83 persen, yang dinilai mampu menyerap potensi risiko sekaligus menopang ekspansi kredit. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat rendah, yakni 2,17 persen secara bruto dan 0,83 persen secara neto.
Hasil uji ketahanan yang dilakukan Bank Indonesia juga mengindikasikan bahwa sektor perbankan tetap tangguh menghadapi berbagai skenario tekanan, termasuk dampak lanjutan dari konflik di Timur Tengah. Ketahanan ini didukung oleh kemampuan bayar dan kinerja keuntungan korporasi yang tetap stabil.
Stabilitas nilai tukar
Di sisi intermediasi, kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh 9,49 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan Februari yang tercatat 9,37 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh kredit investasi yang naik 20,85 persen, kredit modal kerja 4,38 persen, dan kredit konsumsi 5,88 persen.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat kapasitas pendanaan perbankan, termasuk melalui pengembangan sumber pendanaan nontradisional untuk mendukung penyaluran kredit,” kata Perry.
Di tengah tekanan eksternal, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah akibat arus modal keluar dan sentimen risiko global terkait konflik Iran, Bank Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Suku bunga acuan tetap dipertahankan di level 4,75 persen, seiring dengan upaya menjaga inflasi dan menarik aliran modal asing.
Bank sentral menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, didukung cadangan devisa yang memadai, defisit transaksi berjalan yang terkendali, serta inflasi yang diproyeksikan berada dalam target hingga 2027.










