Lonjakan belanja militer di kawasan Asia dan Oseania menjadi sorotan utama pada 2025, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian keamanan global.
Laporan terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis Senin (27/4) mencatat total pengeluaran militer di kawasan tersebut mencapai US$681 miliar, naik 8,1 persen dibanding tahun sebelumnya—kenaikan tahunan tertinggi sejak 2009.
Secara global, belanja militer dunia menyentuh US$2,887 triliun pada 2025, meningkat 2,9 persen secara riil dari 2024. Amerika Serikat, China, dan Rusia masih mendominasi sebagai tiga negara dengan pengeluaran terbesar, dengan total gabungan mencapai US$1,48 triliun atau sekitar 51 persen dari total dunia.
China mempertahankan posisinya sebagai negara dengan anggaran militer terbesar kedua di dunia setelah meningkatkan belanjanya 7,4 persen menjadi US$336 miliar.
Peningkatan ini menandai tahun ke-31 berturut-turut ekspansi anggaran pertahanan Beijing, seiring upaya modernisasi militernya yang berkelanjutan. SIPRI mencatat bahwa kampanye antikorupsi dalam pengadaan militer tidak terlihat menghambat laju pengeluaran tersebut.

Di Asia Selatan, India tetap berada di peringkat kelima global dengan kenaikan belanja militer sebesar 8,9 persen menjadi US$92,1 miliar. Sementara itu, Pakistan—rival lama India—juga meningkatkan anggaran pertahanannya sebesar 11 persen menjadi US$11,9 miliar.
Kenaikan signifikan juga terlihat di Asia Timur. Jepang mencatat peningkatan 9,7 persen menjadi US$62,2 miliar, setara 1,4 persen dari produk domestik bruto (PDB), level tertinggi sejak 1958.
Taiwan bahkan mencatat lonjakan lebih tajam sebesar 14 persen menjadi US$18,2 miliar atau 2,1 persen dari PDB, yang disebut sebagai kenaikan terbesar setidaknya sejak 1988, di tengah meningkatnya aktivitas militer China di sekitar pulau tersebut.
Peneliti senior SIPRI, Diego Lopes da Silva, menilai tren ini tidak hanya dipicu oleh ketegangan regional yang telah lama berlangsung, tetapi juga oleh ketidakpastian terhadap komitmen keamanan Amerika Serikat.
“Sekutu AS di Asia dan Oseania seperti Australia, Jepang, dan Filipina meningkatkan belanja militer mereka, bukan hanya karena ketegangan kawasan, tetapi juga karena meningkatnya ketidakpastian atas dukungan AS,” ujarnya.
Ia menambahkan, seperti halnya di Eropa, negara-negara sekutu Washington di kawasan ini juga menghadapi tekanan dari pemerintahan Donald Trump untuk meningkatkan kontribusi pertahanan mereka sendiri.
Sementara itu, di Timur Tengah, total belanja militer diperkirakan mencapai US$218 miliar pada 2025, hanya naik tipis 0,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Sebagian besar negara utama di kawasan tersebut meningkatkan pengeluarannya, kecuali Israel.
Belanja militer Israel tercatat turun 4,9 persen menjadi US$48,3 miliar, seiring meredanya intensitas konflik di Gaza setelah gencatan senjata dengan Hamas pada Januari 2025. Meski demikian, anggaran pertahanan Israel masih hampir dua kali lipat lebih tinggi—atau naik 97 persen—dibandingkan level pada 2022.







