Di bawah langit yang masih gelap, aliran jamaah bergerak menuju Masjid al-Nabawi, Masjid Nabi di Madinah.
Dalam beberapa menit, halaman luas masjid dipenuhi, kemudian meluap ke jalan-jalan di sekitarnya.
Setiap jalan yang mengarah ke masjid menjadi bagian dari kerumunan, saat ratusan ribu orang tiba untuk menunaikan shalat pada hari pertama Idul Fitri.
Suara takbir — seruan “Allahu Akbar” — bergema dan menyebar ke seluruh kota, disertai salawat, doa yang mengirimkan berkah kepada Nabi Muhammad.
Di seluruh dunia, umat Muslim menandai akhir Ramadan di masjid setempat. Namun di Madinah, tempat Nabi Muhammad pernah tinggal, memimpin komunitas, dan pertama kali merayakan Idul Fitri, momen ini membawa makna sejarah dan spiritual yang lebih dalam.
Madinah biasanya dikunjungi sebelum atau setelah ibadah haji ke Mekkah, menjadikannya tujuan utama bagi banyak Muslim yang menunaikan Umrah atau Haji, karena di kota ini terdapat masjid kedua paling suci dalam Islam, Masjid al-Nabawi, setelah Masjid al-Haram di Mekkah.
Sebuah pertemuan tanpa batas
Pada zaman Nabi, shalat Idul Fitri dilaksanakan di ruang terbuka — musalla Idul Fitri — tempat seluruh komunitas diundang.
Pria, wanita, anak-anak, lansia. Tidak ada yang dikecualikan. Inklusivitas yang sama masih terlihat hingga kini.
Barisan jamaah meluas ke dalam masjid, halaman, dan jalan-jalan. Para jamaah berdiri bersebelahan — dengan berbagai bahasa, berbagai negara, satu arah.
Tidak semua orang bisa masuk masjid. Jumlah jamaah yang sangat banyak membuat akses menjadi sulit.
Bagi Selda Ozturk, 53, yang datang dari Turki untuk Umrah sebelum ke Mekkah, hal ini awalnya mengecewakan. Namun perasaan itu cepat berubah.
Berdoa di luar, di tengah ratusan ribu orang lainnya, ia merasakan solidaritas yang mendalam — tidak hanya dengan orang di sekitarnya, tetapi dengan umat Muslim sepanjang waktu.
“Saya sangat sedih tidak bisa masuk ke masjid, bahkan halaman pun tidak. Normalnya hanya lima menit berjalan dari hotel, tapi saya berangkat dua jam lebih awal dan hanya sampai di pintu masuk,” ujarnya kepada TRT World.
Banyak orang lain memiliki refleksi serupa.
Bagi sebagian orang, pengalaman ini lebih tentang momen kolektif itu sendiri — persatuan, niat, dan hadir bersama.
Di antara mereka yang berkumpul di luar masjid ada Rania Mghoghi, siswi SMA berusia 17 tahun dari Maroko, berdiri bersama ibu dan saudara perempuannya.
Ini pertama kalinya ia berada di Madinah — dan pertama kali merayakan Idul Fitri di sana.
Ia menggambarkan pengalaman ini sebagai luar biasa, terutama shalat di masjid yang dibangun oleh Nabi — yang dikenang karena kepeduliannya terhadap komunitas, mendoakan mereka, dan memikirkan kesejahteraan mereka di saat-saat terakhirnya.
“Saya menyukai perasaan berdoa di masjid yang dibangun oleh orang yang menangis untuk kita sebelum wafat, Nabi Muhammad, shalallahu alaihi wa sallam,” ujarnya kepada TRT World.
Saudarinya, Malak Mghoghi, 16, merasakan hal yang sama, dan menyebut momen itu sebagai pengalaman paling bermakna dalam hidupnya.
Ibu mereka, Loubna Mghoghi, 46, yang sedang Umrah kedua kalinya, mengatakan shalat Idul Fitri sangat penting bagi mereka.
“Kami tidak ingin melewatkan shalat Idul Fitri,” jelasnya kepada TRT World. “Jadi kami menebar sajadah di jalan dan shalat di sana bersama ribuan orang lainnya.”
Dari Sudan hingga India, London hingga Nigeria, Pakistan hingga Aljazair dan Amerika Serikat, umat Muslim dari berbagai benua berkumpul — menjadikan jalan-jalan Madinah sebagai titik pertemuan komunitas Muslim global.
Momen kedekatan
Bagi semua orang, bagian paling bermakna dari Idul Fitri dimulai dengan mengirimkan “salam” kepada Nabi Muhammad dari jauh.
Jamaah berkumpul di luar, menghadap Kubah Hijau ikonik, tempat makam Nabi serta dua khalifah Rashidun pertama, Abu Bakar dan Umar, berada.
Banyak yang tampak terharu. Beberapa menyeka air mata saat mengirim salam kepada Nabi.
Bagi sebagian orang, momen ini menentukan seluruh hari.
Dapat menyapa Nabi dan merayakan Idul Fitri di kota beliau menjadi bagian paling bermakna dari pengalaman itu, kata Sari, 28, dari Malaysia.
“Ini adalah hubungan yang terasa sangat pribadi sekaligus berakar pada sejarah,” ujarnya kepada TRT World.
Kota yang bergerak
Udara pagi membawa energi tenang, meski kota mulai dipenuhi aktivitas.
Anak-anak dengan pakaian warna-warni berlari di halaman, tertawa dan bermain sementara keluarga berdoa.
Pakaian cerah bergerak di tengah kerumunan — mencerminkan tradisi Nabi, yang mengenakan pakaian terbaik pada Idul Fitri.
Orang-orang saling menyapa.
Bagi Dian, 37, dari Indonesia, momen ini ditentukan oleh hubungan kemanusiaan — orang saling memeluk, berbagi, dan merayakan bersama.
Shermin, 33, dari Bangladesh, mengatakan ia tidak membayangkan jumlah orang yang berkumpul sampai melihatnya sendiri.
Pergerakan, kepadatan, dan irama bersama kerumunan — semua menciptakan rasa menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri sendiri.
Lebih dari empat belas abad lalu, Nabi Muhammad menetapkan Idul Fitri di kota ini.
Catatan sejarah menggambarkan bagaimana beliau mengumpulkan komunitas, memimpin shalat di ruang terbuka, dan mengingatkan mereka tentang rasa syukur dan kedermawanan.
Beliau menekankan zakat al-fitr sebelum Idul Fitri, agar tidak ada yang tertinggal dari perayaan.
Prinsip itu masih terlihat hingga kini. Tindakan memberi berlangsung diam-diam di seluruh kota — donasi diberikan, kebutuhan dipenuhi tanpa diminta.
Tangan menolong, tangan lain menerima. Tanpa sorotan, tanpa pujian.
Idul Fitri, dulu dan sekarang, tidak lengkap kecuali dibagi bersama.
Catatan sejarah juga menyebut Nabi mengambil rute berbeda saat kembali dari shalat Idul Fitri — memungkinkan beliau menyapa lebih banyak orang dan menyebarkan sukacita hari itu.
Hingga kini, semangat itu tetap hidup.
Salam-salam menyebar ke jalan-jalan. Percakapan terjadi di sepanjang jalan. Perayaan meluas di luar masjid.
Kota itu sendiri menjadi bagian dari pengalaman.
Bagi banyak orang, hari itu membawa perasaan manis dan pahit, sebagai perpisahan dengan Ramadan.
Gulnora, 60, dari Uzbekistan, menyebutnya sebagai penutup sekaligus awal.
“Ini perpisahan manis-pahit dengan Ramadan,” ujarnya kepada TRT World. “Tapi Idul Fitri mengingatkan kita bahwa ini juga awal untuk melanjutkan apa yang kita peroleh selama sebulan, disiplin, kesabaran, dan refleksi.”
Saat Idul Fitri berakhir, bagi mereka yang berkumpul di Madinah, pengalaman ini meninggalkan lebih dari sekadar perayaan — tetapi rasa persatuan yang abadi, dibentuk oleh shalat bersama, hadir bersama, dan kedamaian.











