BISNIS DAN TEKNOLOGI
4 menit membaca
SpaceX milik Elon Musk siap gelar IPO besar-besaran, bidik valuasi Rp28 kuadriliun
Penjualan saham perdana ini berpotensi membawa valuasi perusahaan ke level US$1,75 triliun dan menempatkan pendirinya di jalur menuju triliuner pertama dalam sejarah.
SpaceX milik Elon Musk siap gelar IPO besar-besaran, bidik valuasi Rp28 kuadriliun
SpaceX menargetkan total potensi pasar sebesar $28,5 triliun di seluruh lini bisnisnya. (Foto: ARSIP) / Reuters

SpaceX resmi membuka dokumen penawaran saham perdana atau IPO, memperlihatkan kondisi keuangan perusahaan yang telah merevolusi teknologi roket dan kini memiliki ambisi lebih besar untuk mengolonisasi Mars hingga membangun pusat data AI di luar angkasa.

Pencatatan saham ini diperkirakan menjadi debut pasar AS pertama dengan valuasi lebih dari US$1 triliun dan dapat membuka jalan bagi sejumlah IPO besar lainnya dalam beberapa bulan mendatang, termasuk kemungkinan dari raksasa teknologi AI seperti OpenAI dan Anthropic.

Jika sukses, IPO tersebut akan langsung menempatkan SpaceX sebagai salah satu perusahaan publik paling bernilai di dunia sekaligus menjadi perusahaan kedua dalam kerajaan bisnis Elon Musk yang menembus valuasi US$1 triliun.

Sejak didirikan pada 2002, SpaceX berkembang menjadi perusahaan antariksa terbesar di dunia lewat peluncuran ribuan satelit internet Starlink. Penggunaan roket yang dapat digunakan kembali juga mengubah ekonomi industri luar angkasa dan memaksa pesaing seperti Jeff Bezos melalui perusahaannya, Blue Origin, untuk mengejar ketertinggalan.

Meski dikenal lewat bisnis roket dan peluncuran satelit, sebagian besar pendapatan SpaceX tahun lalu yang mencapai US$18,67 miliar berasal dari layanan internet satelit Starlink. Pertumbuhan bisnis ke depan juga disebut sangat bergantung pada sektor kecerdasan buatan. Unit AI mereka, xAI, menurut dokumen IPO, masih mencatat kerugian.

IPO yang sukses dapat mendorong valuasi perusahaan hingga US$1,75 triliun, melampaui rekor sebelumnya dan menempatkan Musk di jalur menjadi triliuner pertama di dunia. Hal itu sekaligus dianggap membuktikan keberhasilan strategi Musk yang selama bertahun-tahun dinilai menentang logika industri melalui pengembangan roket yang bisa mendarat dan diterbangkan kembali.

Pengungkapan dokumen regulasi ini muncul di tengah pekan penting bagi perusahaan, yang tengah bersiap melakukan uji terbang roket generasi terbaru Starship.

Rencana Musk untuk misi Bulan dan Mars serta ekspansi bisnis internet Starlink sangat bergantung pada keberhasilan roket baru tersebut.

Peluncuran uji coba yang semula dijadwalkan Selasa kini diperkirakan berlangsung akhir pekan ini.

Dewan direksi memberi Musk kendali besar atas perusahaan, tetapi sebagian besar kompensasinya dikaitkan dengan target ambisius seperti membangun koloni manusia permanen di Mars dan pusat data luar angkasa dengan kapasitas komputasi setara 100 terawatt atau sekitar 100 ribu reaktor nuklir berkapasitas satu gigawatt, menurut laporan sebelumnya dari Reuters.

SpaceX menargetkan pencatatan saham paling cepat pada 12 Juni, dengan roadshow dimulai 4 Juni dan penjualan saham diperkirakan berlangsung mulai 11 Juni, menurut laporan Reuters pekan lalu.

TerkaitTRT Indonesia - Musk menggabungkan xAI ke dalam SpaceX untuk kembangkan pusat data berbasis ruang angkasa

Efek “halo” Elon Musk

Analis dan akademisi menilai citra Musk sebagai CEO selebritas mungkin lebih berpengaruh bagi investor dibanding fundamental bisnis SpaceX sendiri, mengingat belum ada perusahaan sejenis yang dapat dijadikan pembanding valuasi.

Perusahaan menyebut potensi total pasar bisnisnya mencapai US$28,5 triliun, dengan mayoritas potensi pendapatan berasal dari sektor AI.

Target valuasi US$1,75 triliun, jika tercapai, akan melampaui IPO Saudi Aramco pada 2019 yang saat itu mencetak rekor sebagai IPO terbesar dunia dengan valuasi US$1,7 triliun di bursa Riyadh.

SpaceX sebelumnya juga dilaporkan berencana menghimpun dana lebih dari US$75 miliar melalui IPO tersebut.

Besarnya skala penawaran saham ini turut menyoroti keterkaitan erat antarbisnis Musk yang sering dijuluki “Muskonomy”, mencakup perusahaan kendaraan listrik Tesla, bisnis kecerdasan buatan, hingga teknologi implan otak.

SpaceX juga telah bergabung dengan startup AI milik Musk, xAI, dalam kesepakatan yang menilai perusahaan roket itu sebesar US$1 triliun dan pengembang chatbot Grok sebesar US$250 miliar.

Analis menilai kekhawatiran mengenai kemampuan Musk mengelola banyak perusahaan dengan total valuasi gabungan mencapai triliunan dolar dapat memengaruhi sentimen investor.

Tarik ulur IPO sektor AI

Sejumlah perusahaan AI besar seperti OpenAI dan Anthropic juga tengah menjajaki kemungkinan IPO pada akhir 2026. Tingginya minat terhadap IPO SpaceX diyakini dapat memengaruhi waktu dan antusiasme pasar terhadap pencatatan saham perusahaan lain.

SpaceX berencana mengalokasikan sebagian besar saham untuk investor ritel dan akan mengundang sekitar 1.500 investor ke sebuah acara pada Juni setelah peluncuran roadshow IPO, menurut laporan Reuters pada April lalu.

Perusahaan diperkirakan akan melantai di bursa Nasdaq dengan kode saham “SPCX”. IPO tersebut akan ditangani oleh Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, Citigroup, dan J.P. Morgan sebagai penjamin emisi.

SUMBER:TRT World & Agencies