Unai Emery tak hanya mengukuhkan statusnya sebagai “raja” Liga Europa usai meraih gelar kelima sebagai pelatih, tetapi juga berhasil membawa Aston Villa kembali menjadi kekuatan besar di sepak bola Eropa.
Pelatih asal Spanyol berusia 54 tahun itu bergabung dengan Villa pada akhir 2022 saat klub asal Midlands tersebut berada dekat zona degradasi Liga Inggris.
Sejak saat itu, Emery sukses mengangkat Villa ke papan atas liga domestik, membawa mereka lolos ke Liga Champions, dan kini mempersembahkan trofi pertama klub dalam 30 tahun terakhir.
Kemenangan telak 3-0 atas Freiburg pada final Liga Europa di Istanbul menunjukkan semua kekuatan terbaik Villa racikan Emery: kecerdikan taktik, pertahanan solid, dan kualitas permainan yang tinggi.
Gol-gol indah di babak pertama dari Youri Tielemans dan Emiliano Buendia membawa Villa unggul sebelum Morgan Rogers menambah gol selepas jeda untuk memastikan Freiburg tak mampu bangkit.
Saat gol demi gol tercipta, para pemain Villa mendapat dukungan meriah dari ribuan suporter yang datang langsung dari Birmingham ke Istanbul.
Di antara para pendukung itu hadir pula penggemar paling terkenal Villa, Prince William, yang merayakan kemenangan tersebut dengan antusias di X.
“Luar biasa malam ini!! Selamat besar untuk seluruh pemain, tim, staf, dan semua yang terhubung dengan klub! Sudah 44 tahun sejak terakhir kali merasakan trofi Eropa!” tulisnya.
Malam bersejarah bagi Villa
Kapten Aston Villa, John McGinn, mendedikasikan kemenangan tersebut untuk para suporter yang tetap setia mendukung klub, termasuk saat mereka terpuruk selama tiga musim di divisi Championship pada 2016 hingga 2019.
“Malam ini adalah hasil dari semua yang telah kami bangun bersama,” ujarnya.
Dijuluki “Mr Europa League”, Emery kini telah memenangkan kompetisi tersebut lima kali bersama klub-klub yang memiliki unsur “villa” dalam namanya: Sevilla, Villarreal, dan Aston Villa.
Emery pun meminta timnya menjadikan keberhasilan ini sebagai fondasi menuju era baru yang lebih ambisius.
“Musim depan kami akan bermain di Liga Champions dan Liga Inggris adalah liga paling sulit di dunia. Itu tantangan kami,” kata Emery.
Sementara itu, pelatih Freiburg, Julian Schuster, mengakui kekalahan tersebut terasa menyakitkan.
“Kami kehilangan kendali permainan, terutama karena situasi bola mati. Itu sangat sulit diterima,” ujarnya.









