BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Ketegangan Timur Tengah tekan industri petrokimia, pelaku usaha cari alternatif
Pelaku industri mulai mempertimbangkan penggunaan bahan baku alternatif. Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah pemanfaatan liquefied petroleum gas (LPG) sebagai pengganti nafta.
Ketegangan Timur Tengah tekan industri petrokimia, pelaku usaha cari alternatif
Pabrik Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Kota Cilegon, Provinsi Banten yang diresmikan oleh Presiden Prabowo pada 6 November 2025. / BPMI Setpres
6 jam yang lalu

Gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak pada industri petrokimia Indonesia, terutama karena tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, mengatakan kepada Jakarta Globe bahwa pelaku industri kini terus memantau perkembangan pasokan global, khususnya untuk nafta yang menjadi bahan utama produksi plastik dan turunannya.

Indonesia saat ini masih sepenuhnya bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan nafta yang mencapai sekitar 3 juta ton per tahun. Sementara itu, kebutuhan bahan baku plastik seperti polyethylene (PE), polypropylene (PP), polyethylene terephthalate (PET), polystyrene (PS), dan polyvinyl chloride (PVC) mencapai sekitar 8 juta ton per tahun, dengan sekitar setengahnya masih berasal dari luar negeri.

“Untuk nafta kebutuhan 3 juta ton per tahun dan 100 persen impor. Untuk bahan baku plastik seperti PE, PP, PET, PS, dan PVC sekitar 8 juta ton, dengan 50 persen masih impor,” ujar Fajar.

Ketergantungan tinggi terhadap impor membuat industri ini rentan terhadap gangguan rantai pasok global. Bahkan gangguan kecil dalam distribusi dapat langsung memengaruhi proses produksi di dalam negeri.

Sebagai langkah antisipasi, pelaku industri mulai mempertimbangkan penggunaan bahan baku alternatif. Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah pemanfaatan liquefied petroleum gas (LPG) sebagai pengganti nafta.

Dalam situasi ini, persaingan global untuk mendapatkan bahan baku semakin ketat, seiring upaya setiap negara untuk menjaga keberlangsungan industrinya masing-masing.

TerkaitTRT Indonesia - Industri Asia terdampak lonjakan biaya energi akibat konflik Timur Tengah



SUMBER:TRT Indonesia & Agensi