Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) mengonfirmasi bahwa seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Kolombia berada dalam kondisi selamat pascabencana gempa bumi magnitudo 7,4 yang melanda wilayah tersebut pada Senin (10/8).
Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, menjelaskan bahwa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bogota bergerak cepat menghubungi masyarakat Indonesia yang tersebar di wilayah terdampak.
"KBRI Bogota telah menjalin komunikasi dengan WNI yang berada di sejumlah wilayah terdampak. Berdasarkan pemantauan KBRI Bogota, seluruh WNI di Kolombia dilaporkan dalam kondisi aman," ungkap Heni dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Selasa (11/8).
Pusat gempa tercatat berada di wilayah Choco, kurang lebih 280 kilometer dari ibu kota. Kuatnya guncangan membuat Getaran terasa tajam di beberapa kota besar, termasuk Cali, Medellin, Pereira, Manizales, hingga Ibague.
Otoritas setempat merespons cepat situasi ini dengan mengaktifkan mekanisme tanggap darurat nasional serta menetapkan status bencana nasional. Langkah ini diambil untuk mempercepat koordinasi lintas lembaga dalam menangani dampak kerusakan di lokasi bencana.
Laporan dari agen berita Anadolu mencatat dampak kehancuran yang terbilang parah. Presiden Kolombia Abelardo De La Espriella mengumumkan setidaknya 111 orang meninggal dunia dan 87 lainnya luka-luka. Selain itu, sekitar 1.575 rumah mengalami kerusakan, puluhan fasilitas publik serta sekolah hancur, dan belasan ruas jalan terputus.
Guna memastikan keselamatan para migran Indonesia, KBRI Bogota menyatakan bakal terus memantau perkembangan di lapangan secara berkala. Perwakilan RI tersebut meminta seluruh WNI di Kolombia untuk meningkatkan kewaspadaan, mengikuti petunjuk otoritas lokal, serta menyimpan nomor kontak darurat.
Bagi WNI yang memerlukan bantuan langsung atau ingin memperbarui informasi kondisi sekitar, KBRI Bogota membuka saluran telepon darurat (hotline) di nomor +57 301 9061706.





















