Pemerintah Indonesia menegaskan telah mengerahkan segala daya upaya untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas. Namun, luasnya wilayah serta tantangan geografis membuat proses pemadaman oleh puluhan ribu petugas di lapangan menemui jalan terjal.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan, seluruh lini dari udara hingga darat terus bergerak aktif untuk menjinakkan api, menekan dampak asap, serta mengutamakan keselamatan warga.
"Dari udara hingga darat, seluruh kekuatan terus bergerak. Segala upaya dikerahkan untuk memadamkan api, mengurangi dampak asap, dan yang terpenting melindungi publik dari ancaman kebakaran hutan dan lahan," ujar Teddy, Senin (21/9).
Sejak bulan lalu, pemerintah telah menerjunkan 64 pesawat dan 54.000 personel ke Pulau Kalimantan dan Sumatera untuk melakukan operasi pemadaman, termasuk menggunakan teknik water bombing. Kendati demikian, Teddy mengakui bahwa bentang wilayah yang sangat luas serta karakteristik lahan gambut menjadi hambatan serius di berbagai daerah.

Kendala di Lapangan dan Gugatan Warga
Di Kalimantan Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengungkapkan bahwa api yang membakar jauh di dalam lapisan tanah gambut memiliki kedalaman yang bervariasi, sehingga sangat sulit dipadamkan secara tuntas.
Selain itu, tim darat juga dihadapkan pada krisis ketersediaan air bersih di sekitar lokasi titik api. "Secara umum, sumber air berkurang atau bahkan menghilang di wilayah yang terdampak kebakaran," kata juru bicara BPBD Kalimantan Barat, Daniel Sinyor.
Di tengah upaya penanggulangan yang berjalan, tekanan hukum turut datang dari elemen masyarakat. Pekan lalu, koalisi masyarakat sipil dan kelompok masyarakat adat di Kalimantan Barat resmi melayangkan gugatan perwakilan kelompok (class action) terhadap pemerintah, termasuk presiden dan gubernur, atas dugaan kelalaian dalam pencegahan bencana tahunan ini.

Dampak Lintas Batas dan Penanganan Regional
Pekatnya kabut asap dari karhutla di Indonesia turut mencemari udara di negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura selama beberapa pekan terakhir.
Sebagai langkah respons, otoritas meteorologi Malaysia pada Senin meluncurkan operasi modifikasi cuaca atau cloud seeding di tiga negara bagian selatan guna menjaga pasokan air serta membantu membersihkan udara. Indeks Polutan Udara (API) di Kuala Lumpur dan Kuching tercatat berada di level 156 dan 157, yang masuk dalam kategori tidak sehat.
Di sisi lain, Indonesia juga mendapat uluran tangan internasional. Sekitar 350 personel Pasukan Bela Diri Jepang telah tiba di Kalimantan Barat bulan ini untuk membantu misi pemadaman. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga menyatakan kesiapan menerima bantuan dari Malaysia untuk menekan tingkat polusi udara.
Lonjakan karhutla tahun ini dinilai jauh lebih intens dibanding tahun-tahun sebelumnya. Para ahli menyebut fenomena iklim El Nino terkuat dalam empat dekade terakhir—yang berpadu dengan musim kemarau, perubahan iklim, serta degradasi hutan—telah mengubah bentang alam yang semestinya tahan api menjadi lebih rentan.
Berdasarkan data resmi pemerintah, lebih dari 202.000 hektare lahan telah terbakar di seluruh Indonesia sepanjang periode Januari hingga Juli. Sementara itu, proyek pemantauan lingkungan Nusantara Atlas mencatat angka yang lebih tinggi, yakni mendekati 300.000 hektare pada rentang waktu yang sama, dengan estimasi total area terdampak mencapai hampir 896.000 hektare jika kalkulasi diperluas hingga Agustus.




















