BISNIS DAN TEKNOLOGI
3 menit membaca
Gugatan Elon Musk vs Sam Altman mulai disidangkan, ini yang perlu Anda ketahui
Banyak hal dipertaruhkan dalam persidangan Musk-Altman yang akan berlangsung selama empat pekan, dengan sejumlah eksekutif teknologi besar dijadwalkan memberi kesaksian.
Gugatan Elon Musk vs Sam Altman mulai disidangkan, ini yang perlu Anda ketahui
Gugatan Musk terhadap OpenAI akan disidangkan terkait klaim nirlaba. (Kombinasi: DOKUMENTASI) / AFP

Gugatan yang diajukan Elon Musk terhadap perusahaan kecerdasan buatan OpenAI resmi memasuki persidangan pada Senin (27/4), dimulai dengan proses pemilihan juri. Musk menuduh OpenAI telah menyimpang dari misi awalnya sebagai organisasi nirlaba.

Persidangan yang digelar di wilayah sekitar San Francisco ini mempertemukan orang terkaya di dunia dengan perusahaan rintisan yang dulu ia bantu bangun, namun kini justru menjadi pesaing di industri kecerdasan buatan yang berkembang pesat.

Di tengah persaingan itu, chatbot ChatGPT milik OpenAI kini menjadi salah satu rival utama Grok, chatbot buatan perusahaan AI milik Musk, xAI.

Meski berawal dari konflik antara Musk dan CEO OpenAI Sam Altman, kasus ini juga membuka perdebatan lebih luas: apakah teknologi AI akan dikendalikan untuk kepentingan publik atau justru menguntungkan segelintir pihak.

Dalam dokumen pengadilan, disebutkan bahwa Altman meyakinkan Musk untuk ikut mendirikan OpenAI pada 2015 sebagai laboratorium nirlaba dengan tujuan mengembangkan teknologi yang “bisa dimiliki semua orang”. Musk kemudian menginvestasikan jutaan dolar sebelum akhirnya keluar dari proyek tersebut.

Namun dalam perkembangannya, OpenAI membentuk unit komersial karena membutuhkan pendanaan besar untuk membangun infrastruktur komputasi yang mendukung pengembangan AI.

Microsoft menjadi salah satu investor utama dengan suntikan dana miliaran dolar. CEO-nya, Satya Nadella, juga dijadwalkan bersaksi dalam persidangan ini.

Musk menuduh dirinya “dibohongi” karena OpenAI disebut meninggalkan misi awal yang bersifat nirlaba.

Sementara itu, OpenAI membantah tudingan tersebut. Dalam dokumen pengadilan, perusahaan menyebut perpecahan dengan Musk terjadi karena keinginannya untuk memiliki kontrol penuh, bukan karena perubahan status organisasi.

“Kasus ini sejak awal tentang upaya Elon Musk untuk mendapatkan lebih banyak kekuasaan dan keuntungan,” tulis OpenAI dalam unggahan di X. “Gugatan ini tidak lebih dari kampanye tekanan yang didorong ego, kecemburuan, dan upaya memperlambat pesaing.”

Persidangan janji AI

Hakim yang menangani perkara ini akan memutuskan pada pertengahan Mei, dengan mempertimbangkan masukan juri, apakah OpenAI benar melanggar janji awal kepada Musk atau justru bertindak wajar dalam mengejar perkembangan teknologi AI.

Dalam gugatannya, Musk juga meminta agar OpenAI kembali menjadi organisasi nirlaba penuh, serta menuntut pengunduran diri Sam Altman dan Greg Brockman yang menjabat sebagai presiden perusahaan.

Musk sebelumnya sempat menuntut ganti rugi hingga 134 miliar dolar AS, namun kini mengatakan tidak akan mengambil keuntungan pribadi dan berjanji mengalihkan potensi ganti rugi ke organisasi nirlaba OpenAI.

Hakim Yvonne Gonzalez Rogers juga memiliki kewenangan untuk menentukan putusan akhir tanpa terikat sepenuhnya pada rekomendasi juri.

Saat ini, OpenAI menggunakan struktur hibrida, di mana yayasan nirlaba tetap memegang kendali atas unit bisnis komersialnya.

Kasus ini menjadi sorotan besar di industri teknologi, terutama karena Musk—yang juga dikenal mengubah Twitter menjadi X dan melakukan pemangkasan besar di tim keamanannya—harus meyakinkan pengadilan bahwa OpenAI dibangun di atas janji yang dilanggar.

SUMBER:TRT World & Agencies