Mengapa Kuba tidak merayakan Hari Kemerdekaan pada 20 Mei?
DUNIA
3 menit membaca
Mengapa Kuba tidak merayakan Hari Kemerdekaan pada 20 Mei?Bagi warga Kuba, 1 Januari dianggap sebagai Hari Kemerdekaan yang sesungguhnya karena 20 Mei terkait dengan Amendemen Platt yang memberi AS hak campur tangan dalam urusan Kuba.
Pemerintah Kuba merayakan 1 Januari 1959 sebagai Hari Kemerdekaan mereka yang sebenarnya. (Foto: ARSIP) / Reuters

Di sebuah perkebunan di tenggara Kuba pada Oktober 1868, sebuah peristiwa yang dikenal sebagai “The Cry of Yara” memicu perjuangan pulau tersebut untuk meraih kemerdekaan.

Namun, kemerdekaan itu baru benar-benar datang pada 20 Mei 1902.

Sebelumnya, Kuba harus melewati “Perang Besar” yang berlangsung hampir 10 tahun, disusul “Perang Kecil” selama lebih dari satu tahun. Setelah itu terjadi Perang Kemerdekaan Kuba dan kemudian Perang Spanyol-Amerika.

Kuba akhirnya memperoleh kemerdekaan.

Gedung Putih mengeluarkan pernyataan presiden untuk memperingati hari jadi tersebut.

“Pada Hari Kemerdekaan Kuba ini, republik kami berdiri bersama rakyat Kuba dan jutaan warga Kuba-Amerika yang telah memperkaya kehidupan bangsa kami,” bunyi pernyataan tersebut.

Namun, pemerintah Kuba tidak merayakan tanggal tersebut, begitu pula para pendukungnya di pulau itu.

Mengapa Kuba tidak merayakan Hari Kemerdekaan?

Kemerdekaan Kuba pada 1902 berkaitan erat dengan Amendemen Platt yang diperkenalkan oleh seorang senator AS dari Connecticut. Aturan itu memberi Amerika Serikat hak untuk campur tangan dalam urusan Kuba “demi menjaga kemerdekaan Kuba” dan memungkinkan pemerintah AS menyewa atau membeli lahan untuk membangun pangkalan angkatan laut di pulau tersebut.

Meski aturan itu dicabut pada masa Presiden AS Franklin D. Roosevelt, kebijakan tersebut meninggalkan luka sejarah bagi banyak warga Kuba.

“Hanya ada satu hal yang bisa disyukuri dari hari itu,” tulis Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel di X pada Rabu.

“Hari itu menanamkan semangat anti-imperialisme pada rakyat Kuba kala itu yang terus dirasakan makin kuat oleh setiap generasi berikutnya di tengah ancaman baru dan terus-menerus terhadap kemerdekaan dan kedaulatan bangsa,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa 20 Mei merepresentasikan “intervensi, campur tangan, perampasan, dan kekecewaan.”

Tanggal yang sarat muatan politik

Pernyataan Gedung Putih menuduh pemerintah Kuba sebagai “pengkhianatan langsung terhadap bangsa yang diperjuangkan dan dipertaruhkan nyawanya oleh para patriot pendiri Kuba.”

Pemerintah Kuba langsung merespons pernyataan tersebut.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez Parrilla menyebut pernyataan itu sebagai sesuatu yang “dangkal dan tidak memahami situasi” dalam unggahan di X. Ia juga mengatakan pernyataan tersebut merupakan “penghinaan” bagi rakyat Kuba.

Pejabat Kuba juga mengecam keputusan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang merilis pesan video berbahasa Spanyol pada 20 Mei, beberapa jam sebelum pengumuman dakwaan terhadap Castro.

Rubio menuduh pemerintah Kuba menjarah miliaran dolar dan membiarkan rakyat di pulau itu kekurangan listrik, bahan bakar, serta makanan. Ia juga membantah bahwa blokade energi AS menjadi penyebab utama kondisi tersebut.

Pemerintah Kuba sendiri merayakan 1 Januari 1959 sebagai Hari Kemerdekaan yang sesungguhnya, yakni saat kaum revolusioner menang dan memaksa Fulgencio Batista melarikan diri dari negara itu.

Rodriguez menegaskan bahwa “Revolusi mengakhiri hampir enam dekade kontrol ekonomi dan politik Amerika Serikat, termasuk tiga intervensi militer serta dukungan politik dan militer terhadap dua rezim diktator berdarah.”

Kuba juga memperingati 26 Juli sebagai Hari Pemberontakan Nasional yang menandai serangan gagal pada 1953, peristiwa yang kemudian menjadi awal menuju revolusi Kuba.

SUMBER:TRT World & Agencies