Para menteri luar negeri negara-negara BRICS memulai pertemuan dua hari di New Delhi, India pada Kamis di tengah meningkatnya ketegangan global akibat perang Iran dan lonjakan harga energi serta perbedaan pandangan di antara anggota blok.
Kepemimpinan India dalam BRICS tahun 2026 mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”. Secara kolektif, negara-negara BRICS mewakili lebih dari 40 persen populasi dunia dan sekitar 32 persen Produk Domestik Bruto (PDB) global.
Forum yang dipimpin India sebagai ketua BRICS 2026 mempertemukan perwakilan Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Indonesia, Iran, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Ethiopia.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono turut menghadiri pertemuan tersebut. Ia menyebut pembahasan mencakup isu geopolitik, penguatan kerja sama ekonomi digital, keberlanjutan, hingga tata kelola global.
“Saya menyampaikan dukungan Indonesia terhadap keketuaan India di BRICS tahun ini serta membahas upaya untuk memperdalam kerja sama Indonesia–India dalam Kemitraan Strategis Komprehensif. Kami juga menegaskan kembali komitmen bersama untuk memperkuat koordinasi di antara negara-negara BRICS di tengah dinamika kawasan dan global,” ujarnya dalam unggahan di platform X.
Pertemuan ini juga dihadiri Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Sementara China diwakili Duta Besar Xu Feihong karena Menteri Luar Negeri Wang Yi tetap berada di Beijing mendampingi Presiden Xi Jinping dalam pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump.
Pembahasan konflik Timur Tengah
Konflik di Timur Tengah menjadi salah satu sumber ketegangan internal BRICS. Iran dan Uni Emirat Arab, yang sama-sama anggota baru, memiliki kepentingan berbeda terkait perang yang melibatkan Iran dan Israel sejak Februari lalu.
Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar dalam pidato pembukaan mengatakan dunia sedang menghadapi situasi internasional yang penuh ketidakpastian. Ia menilai negara berkembang semakin berharap BRICS dapat menjadi kekuatan penyeimbang yang stabil di tengah dinamika global.
“Kita bertemu di saat hubungan internasional mengalami perubahan besar,” kata Jaishankar. Ia menambahkan BRICS dapat membantu negara berkembang menghadapi tantangan kesehatan, pembiayaan, serta tingginya harga energi, pangan, dan pupuk.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan perbedaan pandangan di antara anggota telah menghambat tercapainya posisi bersama BRICS mengenai konflik tersebut.
“Kami ingin keketuaan India di BRICS sukses. Tidak baik memberi sinyal kepada dunia bahwa BRICS terpecah. Ada satu negara yang bersikeras mengecam Iran,” kata Gharibabadi kepada kantor berita Press Trust of India.
Sejak dibentuk pada 2009 oleh Brasil, Rusia, India, dan China, BRICS berkembang sebagai kelompok ekonomi negara berkembang yang ingin memperbesar pengaruh di tatanan global yang selama ini didominasi negara Barat.
Meski terus memperluas pengaruh politik dan ekonomi di Global South, BRICS masih menghadapi tantangan besar dalam menyatukan sikap anggotanya, terutama terkait hubungan dengan Barat, perang Ukraina, dan konflik di Timur Tengah.












