Harga nikel global menguat pada awal pekan, didorong kekhawatiran baru atas pasokan dari Indonesia serta gangguan rantai suplai bahan baku akibat konflik di Timur Tengah.
Di pasar Shanghai Futures Exchange, kontrak nikel paling aktif tercatat melonjak 3,53% ke level 150.000 yuan per ton pada perdagangan pagi, bahkan sempat menyentuh titik tertinggi sejak akhir Januari.
Sementara itu, harga acuan tiga bulan di London Metal Exchange naik 1,68% menjadi US$19.335 per ton, level terkuat sejak pertengahan 2024.
Tekanan pada sisi pasokan semakin terasa setelah perusahaan tambang Eramet mengumumkan rencana penghentian sementara produksi di tambangnya di Indonesia mulai bulan depan.
Dalam laporan kinerja kuartal pertama, perusahaan tersebut menyebut kuota bijih nikel sebesar 12 juta wet ton diperkirakan habis pada pertengahan Mei, sehingga tambang Weda Bay akan memasuki fase perawatan.

Dari dalam negeri, kebijakan pemerintah Indonesia yang menetapkan kuota produksi bijih nikel (RKAB) 2026 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya turut memperkuat sentimen pasar. Analis Guotai Junan menilai kondisi ini bukan lagi sekadar wacana.
“Penurunan kuota produksi di Indonesia kini telah menjadi realitas, sementara kuota tambahan belum terealisasi, sehingga menarik kembali dana spekulatif ke pasar,” tulis mereka.
Faktor eksternal juga ikut menopang harga. Kekurangan sulfur global masih berlangsung seiring tertutupnya Selat Hormuz akibat kebuntuan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran dapat kembali membuka jalur komunikasi jika ingin mengakhiri konflik yang telah berlangsung dua bulan, sementara Teheran menuntut pencabutan hambatan, termasuk blokade pelabuhan.
Sebelum konflik pecah, kawasan Timur Tengah memasok sekitar setengah kebutuhan sulfur laut dunia. Gangguan ini kini mendorong lonjakan harga dan berpotensi memaksa pengurangan produksi di sektor pengolahan nikel.
Di pasar logam lainnya, sebagian besar harga juga bergerak menguat.
Tembaga, aluminium, timbal, dan seng di Shanghai mencatat kenaikan tipis, sementara di London pergerakan serupa terjadi meski timah terkoreksi ringan.















