Indonesia memperkuat upaya menangani kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi prioritas saat musim kemarau tahun ini semakin intens akibat El Nino. Pemerintah mengerahkan 43 helikopter dan 15 pesawat untuk pemadaman serta operasi modifikasi cuaca guna memicu hujan.
Data Kementerian Kehutanan mencatat 107.465 hektare lahan terdampak kebakaran sepanjang Januari-Juni 2026, naik 110 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023. Kepala BNPB Suharyanto mengatakan El Nino dan musim kemarau memperbesar penyebaran api, sementara faktor manusia menjadi penyebab utama kebakaran.
Kabut asap kini turut meluas ke negara tetangga, terutama Malaysia. Sebanyak 11 wilayah di Sarawak mencatat kualitas udara tidak sehat pada Selasa. Di Serian, indeks pencemaran udara mencapai 190, sehingga otoritas meteorologi Malaysia meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Departemen pendidikan Sarawak juga menginstruksikan sekolah menghentikan kegiatan luar ruang ketika kualitas udara memburuk.
Kabut asap akibat kebakaran mulai berdampak pada aktivitas masyarakat. Di Pontianak, Kalimantan Barat, seluruh kegiatan belajar di sekolah dialihkan ke sistem daring untuk melindungi siswa dari kualitas udara yang buruk. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan kabut asap terutama terasa pada malam hingga pagi hari.
Enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain, termasuk Jawa, Papua, dan Nusa Tenggara.
Pemerintah juga melakukan penyemaian awan, meski upaya tersebut terkendala terbatasnya awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Sementara itu, kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, telah merusak sekitar 899 hektare lahan dan kawasan wisata tersebut ditutup bagi pengunjung. Secara nasional, lebih dari 48.000 personel dikerahkan untuk menangani kebakaran.
BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 akan lebih panjang dan berat. Suhu rata-rata Indonesia pada Juli mencapai 27 derajat Celsius, lebih tinggi dari rata-rata bulanan 26,2 derajat Celsius. Pemerintah menyatakan stok pangan nasional masih mencukupi di tengah meningkatnya ancaman kebakaran dan kekeringan.






















