Badan investasi dana kekayaan negara Indonesia, Danantara, tengah mempertimbangkan penerbitan obligasi berdenominasi dolar AS dengan nilai sedikitnya $500 juta dan tenor panjang, menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut. Instrumen ini diproyeksikan memiliki jatuh tempo 20 atau 30 tahun, sebagai bagian dari strategi pendanaan jangka panjang lembaga tersebut.
Langkah ini menandai upaya Danantara memperpanjang kurva pendanaan globalnya, seiring perannya yang kian sentral dalam mendukung agenda ekonomi Presiden Prabowo Subianto. Namun, minat investor internasional masih dibayangi pertimbangan terkait tata kelola, independensi, serta kemampuan eksekusi lembaga tersebut.
Rencana penerbitan ini juga akan menjadi uji pasar setelah debut obligasi dolar senilai $1,5 miliar pada Juni lalu mencatat permintaan yang kuat. Dengan tenor yang lebih panjang, Danantara berharap dapat menarik pembiayaan yang lebih selaras dengan kebutuhan investasi jangka panjangnya di luar negeri.

“Rasional strategisnya adalah mencocokkan investasi ekuitas luar negeri jangka panjang dengan pendanaan dolar AS berjangka panjang, sehingga mengurangi risiko ketidaksesuaian mata uang,” ujar salah satu sumber. Ia menambahkan, langkah ini juga dapat menekan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Di tengah rencana tersebut, kondisi ekonomi domestik masih menghadapi tekanan.
Nilai tukar rupiah berada di dekat level terendahnya, sementara Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan setelah menaikkannya total 100 basis poin sejak Mei untuk menopang mata uang. Kinerja pasar saham Jakarta juga tercatat sebagai salah satu yang terlemah di Asia tahun ini, meski sempat mengalami pemulihan.
Sumber yang sama menyebutkan, waktu penerbitan obligasi bersifat fleksibel karena Danantara tidak menghadapi tekanan likuiditas.
Hingga akhir April, lembaga ini tercatat memiliki kas dan setara kas sekitar Rp123 triliun, ditopang berbagai sumber pendanaan, termasuk obligasi global, fasilitas kredit multivaluta $10 miliar, dividen BUMN Rp70 triliun, serta penerbitan Patriot Bond sebesar Rp68,4 triliun.
Untuk rencana ini, Danantara telah menunjuk sejumlah bank global sebagai penjamin emisi dan pengelola buku, di antaranya Citigroup, HSBC, JPMorgan, MUFG, dan Standard Chartered. Jika terealisasi, obligasi tersebut akan diterbitkan dengan program global medium-term note senilai $5 miliar.
Ke depan, Danantara juga berencana menata portofolionya secara bertahap menuju target alokasi aset strategis pada 2030, dengan komposisi investasi yang mencakup aset strategis, aset privat dan publik, alokasi fleksibel, serta cadangan likuiditas.


























