Filipina menuduh para nelayan China pada hari Senin (13/4) telah menuangkan sianida ke perairan di Kepulauan Spratly, sebuah titik panas di Laut China Selatan yang disengketakan dan telah menjadi lokasi bentrokan keras dengan kapal-kapal China.
Beijing mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan sebagai wilayahnya, meskipun ada putusan internasional yang menyatakan klaim tersebut tidak memiliki dasar hukum.
Dewan Keamanan Nasional (NSC) Filipina menuduh bahwa keracunan itu dimulai tahun lalu di sekitar Second Thomas Shoal dalam rangkaian Spratly, yang berada di dekat jalur pelayaran penting dan dikabarkan kaya mineral.
"Penggunaan sianida di Ayungin Shoal adalah istilah sabotase yang bertujuan membunuh populasi ikan lokal, sehingga menghilangkan sumber makanan penting bagi personel Angkatan Laut," kata Cornelio Valencia, asisten direktur-jenderal NSC, kepada konferensi pers, menggunakan istilah Filipina untuk terumbu itu.
Tindakan-tindakan ini juga "mengancam personel Angkatan Laut kami" akibat paparan air yang terkontaminasi, konsumsi ikan beracun, serta merusak terumbu karang, tambah Valencia.
Manila dan Beijing memiliki sejarah panjang sengketa wilayah maritim di perairan yang diperebutkan itu, termasuk bentrokan keras pada Juni 2024 di mana petugas penjaga pantai Cina yang membawa pisau, tongkat, dan sebuah kapak naik ke kapal-kapal Angkatan Laut Filipina.
Valencia mengatakan Manila mengangkat dugaan keracunan itu kepada Beijing dalam pertemuan baru-baru ini tetapi belum menerima jawaban resmi.

Kedutaan Besar Cina tidak segera menanggapi permintaan komentar kantor berita AFP saat dihubungi pada hari ini, Senin (13/4).
Valencia mengatakan kerusakan terumbu akibat keracunan sianida juga dapat melemahkan fondasi struktural BRP Sierra Madre, kapal perang era Perang Dunia II tempat pasukan Filipina ditempatkan.
Manila dengan sengaja menepikan kapal itu di shoal tersebut pada 1999 untuk menegaskan klaimnya atas wilayah itu.
Juru bicara Angkatan Laut Filipina, Laksamana Muda Roy Vincent Trinidad, mengatakan pasukan Filipina telah menyita 10 botol sianida dari perahu-perahu sampan yang diluncurkan dari kapal-kapal penangkap ikan Cina pada Februari, Juli, dan Oktober 2025.
Ia mengatakan bahwa para tentara melihat kru sampan China lain meracuni perairan dekat shoal bulan lalu, dan bahwa perairan di shoal tersebut kemudian dinyatakan positif mengandung sianida setelah diuji.
Tidak ada personel di atas kapal perang yang dinyatakan positif mengandung racun, tambah Trinidad.
Valencia dan Trinidad sama-sama menuduh bahwa kapal induk para nelayan itu bekerja untuk Angkatan Laut China.
Valencia mengatakan NSC berencana menyerahkan laporan minggu depan kepada kementerian luar negeri Filipina, yang dapat menjadi dasar protes diplomatik.
Manila juga telah memerintahkan angkatan laut dan penjaga pantai untuk meningkatkan patroli "untuk mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut" di daerah itu, tambahnya.













