Pemerintah Indonesia menyiapkan penerbitan obligasi berdenominasi yuan atau Panda Bond di pasar keuangan China sebagai bagian dari strategi memperkuat nilai tukar rupiah di tengah tekanan global terhadap mata uang negara berkembang.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan negara agar eksposur terhadap dolar Amerika Serikat dapat dikurangi, sekaligus membuka akses pada sumber pendanaan dengan biaya bunga yang lebih kompetitif.
Menurut Purbaya, diversifikasi instrumen utang ke pasar China menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah volatilitas pasar global, sekaligus menjaga kestabilan rupiah yang belakangan berada di bawah tekanan.
Langkah itu dibahas dalam pertemuan terbatas antara Presiden Prabowo bersama jajaran Kabinet Merah Putih dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dengan fokus utama menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan domestik.
Stabilisasi nilai tukar
Selain strategi penerbitan obligasi yuan, pemerintah juga menyoroti performa ekonomi nasional yang menunjukkan percepatan. Untuk menjaga tren pertumbuhan pada kuartal kedua 2026, pemerintah bersama Bank Indonesia disebut tengah menyiapkan stimulus tambahan yang dijadwalkan mulai berjalan pada awal Juni.
Pemerintah juga menjajaki penguatan kerja sama keuangan regional melalui skema pertukaran mata uang (currency swap) dengan China, Jepang, dan Korea Selatan untuk mengurangi tekanan terhadap dolar dalam transaksi perdagangan internasional.
Bank Indonesia sebelumnya memperpanjang perjanjian swap bilateral dengan Bank Sentral China hingga lima tahun ke depan, dengan nilai mencapai 400 miliar yuan atau sekitar Rp878 triliun. Langkah-langkah tersebut mencerminkan strategi Jakarta untuk memperluas instrumen stabilisasi nilai tukar dan memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian pasar global.






















