DUNIA
3 menit membaca
Forum ASEAN soroti krisis Timur Tengah dan sengketa Laut China Selatan
Forum Keamanan ASEAN di Manila membahas dampak konflik Timur Tengah terhadap keamanan energi serta meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan. Para pemimpin dan diplomat menyerukan kerja sama serta solusi diplomatik untuk menjaga stabilitas kawasa
Forum ASEAN soroti krisis Timur Tengah dan sengketa Laut China Selatan
Forum Regional ASEAN (ARF) ke-33 di Manila, Filipina, bersama para Menteri Luar Negeri dan perwakilan dari negara-negara peserta ARF. / Dok. ASEAN

Para menteri luar negeri dan pejabat diplomatik senior dari berbagai kawasan berkumpul di Manila, Filipina, pada Kamis (23/7), untuk menghadiri forum keamanan ASEAN yang membahas meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah dan perselisihan di Laut China Selatan.

Pertemuan ASEAN Regional Forum (ARF) digelar ketika negara-negara kawasan menghadapi tekanan akibat ketidakpastian geopolitik, khususnya setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat.

Pertemuan dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas, serta pejabat tinggi dari China, Jepang, Korea Selatan, Australia, India, Inggris, dan sejumlah negara lainnya.

Ketua ASEAN tahun ini, Filipina, menyebut dunia saat ini menghadapi situasi keamanan yang semakin kompleks dan membutuhkan kerja sama lintas negara.

“Isu-isu ini melampaui batas negara dan menunjukkan bahwa tidak ada satu negara pun yang dapat menghadapi lingkungan keamanan yang kompleks saat ini sendirian,” ujar Lazaro.

Ancaman energi dari Timur Tengah

Konflik di Timur Tengah menjadi perhatian besar dalam agenda ASEAN karena dampaknya terhadap stabilitas energi dunia.

Negara-negara ASEAN memiliki ketergantungan tinggi terhadap minyak dari kawasan Timur Tengah. Dengan nilai ekonomi gabungan sekitar $3,8 triliun, gangguan pasokan energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di kawasan.

Kekhawatiran semakin besar setelah konflik Iran-Amerika Serikat memasuki fase baru. Militer Amerika Serikat kembali melakukan serangan terhadap Iran untuk malam ke-12 berturut-turut. Perkembangan itu meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur perdagangan energi melalui dua titik strategis, yaitu Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan Washington masih membuka peluang penyelesaian diplomatik dengan Iran.

Namun, ia mengatakan proses negosiasi menghadapi kendala karena menurutnya Iran belum menunjukkan komitmen serius dalam pembicaraan. “Masalah yang kami hadapi saat ini adalah mereka tidak serius dalam perundingan,” ujar Rubio.

TerkaitTRT Indonesia - AS tetap terbuka untuk solusi yang dinegosiasikan dengan Iran, kata Rubio kepada ASEAN

Pertemuan Rubio-Lavrov bahas Ukraina

Di sela rangkaian agenda ASEAN, Rubio juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov untuk membahas sejumlah isu, termasuk perang Rusia-Ukraina dan hubungan kedua negara.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan Lavrov menyampaikan kembali kesiapan Moskow untuk mencari solusi politik dan diplomatik atas konflik tersebut.

Departemen Luar Negeri AS juga menyebut pertemuan itu membahas hubungan bilateral serta pentingnya mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Ketegangan Beijing-Manila 

Selain konflik Timur Tengah, situasi di Laut China Selatan kembali menjadi perhatian para peserta forum.

Hubungan China dan Filipina mengalami ketegangan setelah insiden antara penjaga pantai China dan personel Angkatan Laut Filipina di sekitar wilayah sengketa yang berada dalam zona ekonomi eksklusif Filipina pada Senin (20/7).

Sengketa Laut China Selatan telah berlangsung lama. China mengklaim sebagian besar wilayah perairan tersebut melalui konsep garis sembilan putus-putus, sementara klaim itu juga bersinggungan dengan wilayah Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Beijing masih menolak keputusan arbitrase internasional tahun 2016 yang menyatakan klaim tersebut tidak memiliki dasar hukum berdasarkan hukum internasional.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi sebelumnya mengatakan Laut China Selatan harus dipandang sebagai kawasan bersama yang membutuhkan kerja sama antarnegara. Ia menyerukan negara-negara regional menjaga stabilitas kawasan dan menolak keterlibatan pihak luar yang dinilai dapat memperburuk situasi.

Di tengah forum keamanan ASEAN berlangsung, China juga memulai latihan militer dengan peluru tajam selama dua hari di sejumlah wilayah Selat Taiwan. Latihan tersebut dilakukan setelah Beijing menggelar latihan militer besar pada Desember lalu di sekitar Taiwan.

TerkaitTRT Indonesia - Filipina ajukan protes diplomatik terhadap China soal struktur terapung di Laut China Selatan


SUMBER:TRT Indonesia & Agensi