Otoritas terkait terus memantau peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda setelah gunung api aktif tersebut dilaporkan mengalami serangkaian erupsi beruntun.
Berdasarkan laporan yang dihimpun Anadolu Agency dari media lokal, tercatat setidaknya empat kali letusan berturut-turut terjadi pada Senin malam.
Masing-masing letusan memperlihatkan karakteristik serupa dengan menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 300 meter di atas puncak, atau kurang lebih 457 meter di atas permukaan laut.
Petugas Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Kecamatan Rajabasa, Andi Suwardi, mengonfirmasi bahwa aktivitas erupsi masih terus berlanjut hingga Senin malam.
Rentetan letusan pada malam hari tersebut memperpanjang rangkaian aktivitas vulkanik yang telah berlangsung sejak Senin pagi hingga sore hari.
Pada periode tersebut, tinggi kolom abu vulkanik tertinggi yang teramati sempat mencapai sekitar 400 meter di atas puncak kawah aktif.
Menyikapi peningkatan aktivitas ini, pihak berwenang mengimbau masyarakat, nelayan, maupun wisatawan untuk tidak mendekati area kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dengan mengosongkan seluruh aktivitas dalam radius bahaya sejauh 3 kilometer dari pusat kawah.
Secara historis, Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan antara Pulau Sumatra dan Jawa mulai muncul ke permukaan laut pada akhir dekade 1920-an di dalam kaldera sisa letusan dahsyat Gunung Krakatau tahun 1883.
Letusan legendaris pada 1883 silam tercatat sebagai salah satu peristiwa vulkanik paling mematikan dalam sejarah, yang memicu gelombang tsunami besar dan menewaskan lebih dari 36.000 jiwa di pesisir Selat Sunda.
Aktivitas Anak Krakatau juga sempat memicu bencana serupa pada Desember 2018, ketika longsoran sebagian tubuh gunung ke laut memicu tsunami yang menerjang kawasan pesisir Banten dan Lampung.






















