Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan menyepakati langkah untuk meningkatkan daya tarik imbal hasil aset domestik guna mendorong masuknya kembali aliran modal asing serta menopang rupiah yang sempat melemah tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan ini ditujukan agar investor kembali melirik pasar keuangan Indonesia.
“Kami akan meningkatkan daya tarik imbal hasil aset Indonesia sehingga arus portofolio bisa kembali,” ujarnya dalam konferensi pers di parlemen, tanpa merinci skema yang akan ditempuh.
Tekanan terhadap Indonesia terlihat dari derasnya arus keluar modal sepanjang tahun ini.
Pasar saham anjlok lebih dari 30 persen, sementara rupiah terdepresiasi di tengah kekhawatiran investor atas rencana belanja besar pemerintah, lonjakan subsidi energi, serta ketidakpastian kebijakan. Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah pun turun mendekati level terendah dalam hampir dua dekade.
Untuk menjaga stabilitas, BI telah meningkatkan intervensi di pasar valuta asing serta membeli obligasi pemerintah jangka panjang di pasar sekunder guna mengelola likuiditas dan menahan kenaikan yield.
Kementerian Keuangan juga sebelumnya melakukan pembelian kembali obligasi untuk tujuan serupa.
Dalam lelang terbaru, imbal hasil SRBI tenor satu tahun tercatat 7,25 persen, lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah tenor 10 tahun di sekitar 6,9 persen. BI juga berencana menaikkan bunga atas simpanan kas pemerintah di bank sentral guna membantu pengelolaan beban bunga dan meredakan kekhawatiran lembaga pemeringkat.
Menteri Keuangan Purbaya menyatakan koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter ini diharapkan mampu memperkuat kepercayaan investor.
Sebelumnya, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada Mei, di atas ekspektasi pasar, untuk mendukung stabilitas rupiah.














